Cerita Sex Enam – Part 15

Cerita Sex Enam – Part 15by adminon.Cerita Sex Enam – Part 15Enam – Part 15 Intermezo C – Lanjutan. Mau ampe jam berapa Ka? Hm, paling lama kita di jalan sekitar 2 jam an. Pulang pergi ambil 4 jam. Disana kita 5 jam aja. Itung aja sendiri Say. Wuih, lama dong. Revi tapi pulang dengan utuh kan ampe rumah? Hmmm, utuh gak ya? Hahahaha. Utuh sih, […]

tumblr_nvhxqmJOLZ1sij9l3o1_1280 tumblr_nvhxqmJOLZ1sij9l3o2_1280 tumblr_nvhxqmJOLZ1sij9l3o3_1280Enam – Part 15

Intermezo C – Lanjutan.

Mau ampe jam berapa Ka?
Hm, paling lama kita di jalan sekitar 2 jam an. Pulang pergi ambil 4 jam. Disana kita 5 jam aja. Itung aja sendiri Say.
Wuih, lama dong. Revi tapi pulang dengan utuh kan ampe rumah?
Hmmm, utuh gak ya? Hahahaha. Utuh sih, ngan paling juga penuh dengan cupangan sana sini.
Ihhh, nyebelin deee.

Enam bulan mereka jadian. Kebetulan, tanggalnya pas di hari Minggu. Revi diajak mantannya main ke Ciwidey, rencananya mereka mau berendam di tempat pemandian air hangat.
Perjalanan pergi mereka lalui dengan canda nan ceria. Mereka pergi pagi-pagi sekali, untuk menghindari macet. Hanya dibutuhkan satu jam lebih, melalui jalur Cimahi mereka sampai. Berhubung masih pagi, tujuan pertama mereka adalah Kawah Putih.
Sepi. Tapi baguslah, kabutnya juga bagus. Sini Ka, foto.
Hm, ni anak, centil banget.
Hahaha, tapi suka kan?
Hahahaha, banget. Dah, duduk sana, biar Kaka foto. Satu, dua, sepuluh. Nah.
Mana liat? Hahaha, bagus-bagus. Huft, duduk dulu ah, cape.
Yeee, dasar, baru jalan dikit juga, geseran.
Mereka duduk bersampingan, Kawah Putih pagi itu masih sepi, cuaca dingin dan memang sedikit gerimis, sebetulnya bukan waktu yang baik untuk jalan-jalan di Ciwidey. Tapi ini sudah mereka jadwalkan.
Dingin.
Haha, bilang aja mau di peluk. Dasar.
Hehehe, anget Ka.

Vi?
Huh?
Dan bibir Sang Mantan menyentuh bibir Revi. Lembut. Saling melumat, lidah mereka bertautan. Tangan kanan Sang Mantan turun, dari bahu Revi menuju pinggang, memainkan pinggang Revi, sedikit meremasnya.
Mmmm, geli …
Kemudian mulai naik, menyusuri bentuk badan Revi, dan berakhir di bawah lengan kanan, kemudian disusupkannya tangannya, sasarannya bukan lain buah dada Revi. Dimainkannya jemari di atas gundukan daging itu, mulai dia remas, perlahan, namun keras. Jaket yang digunakan Revi keliatannya bukan sebuah penghalang.
Aaaaahhhh, Kaa, malu, tar adaaaa, ahh, orang.
Sang Mantan tidak peduli, kini dia mencium telinga kiri Revi. Membuat Revi semakin mendesah.
Aaaaaaahhhhhh, sssssssssssss.
Badan Revi semakin didekatkan ke badannya, hal ini mempermudah dia meremas buah dada Revi. Dan bibirnya kali ini mendapatkan leher Revi, masih tertutup jilbab hitamnya.

Tangan kirinya bergerak, mendapatkan buah dada kiri Revi, kini kedua buah dada Revi dipermainkan. Diremas, keras, namun perlahan. Mulut Sang Mantan pun kini kembali melumat bibir Revi yang indah itu. Memasukan lidahnya jauh ke dalam rongga mulut Revi.
Mm, slurpp, mmmmmmppp. Air liur mereka mengalir di sela-sela mulut.
Vi, pindah ke belakang.

Revi tidak menjawab, matanya masih sayu dan nafsu terlihat jelas dari wajahnya yang cantik. Dia menurut ketika badannya sedikit ditarik ke arah semak-semak lebat di belakang mereka. Sepanjang perjalanan menuju semak-semak, Sang Mantan memeluk Revi, namun tangan kirinya bukan memeluk pinggang, melainkan tetap memainkan buah dada Revi. Sampai akhirnya mereka sampai di belakang semak yang lumayan lebat. Mereka melihat keadaan, masih gerimis kecil, dan masih sepi.
Dipeluknya tubuh Revi, dan Revipun balas memeluk Sang Mantan. Lidah mereka kembali bertemu. Ciuman mereka semakin dahsyat, saling gigit dan saling lumat. Sang Mantan kemudian membuka sleting jaket Revi, kemudian dengan tidak sabar mengangkat kaos Revi, terlihatlah gundukan daging putih nan indah dibalik BH berwarna hitam. Dan itu pun tidak lama, Bh itu disingkirkan ke atas. Kini buah dada Revi terpapar indah, dengan puting yang masih belum keluar sempurna. Namun itu tidak mengurungkan jari-jari Sang Mantan untuk mencubitnya, mencoba menarik puting-puting itu keluar.
Aaaaahhhhhss, Ka, geli yang. Ah ah ah, jangan di sedot, geli bangettttttttt….

Namun Sang Mantan terus menyedot kedua puting itu silih berganti, meremasi dua gunung kembar yang bulat indah itu. Membusung kencang. Sang Mantan merasa bahagia dan senang, baru satu bulan yang lalu dia melihat benda ini. Sebelumnya mereka baru sebatas ciuman. Bahkan meremas dada Revi dari luarpun baru dua kali. Namun ini, langsung dari dalam, dan dia bisa langsung melumatnya habis.

Sssttt, berisik Yang, pelanin dikit suaranya.
Abisan geli nih.
Geli banget?
Banget.
Hehehe, ya deh, Kaka berhenti dulu ngemutnya, dimainin aja. Sang Mantan lalu membalikan badan Revi.
Eh, mau ngapain? Revi bertanya.
Mau gini. Tangan Sang Mantan memeluk Revi dari belakang, kemudian meremas kedua buah dada Revi. Meremasnya, kali ini lebih cepat dan keras. Membuat nafas Revi semakin memburu. Bibirnya tidak henti menciumi telinga dan leher Revi, masih dari luar jilbabnya. Dan kini, penisnya mulai dia tekankan keras, ke belahan pantat Revi yang masih tertutup celana jeans.

Revi merasakan benda keras itu, dia tau itu apa, tapi dia tidak mempedulikannya. Rasa geli ini, dan sensasi bermain di luar, membuatnya serasa di dunia lain. Walaupun begitu, matanya tetap awas, melihat keadaan.
Tiba-tiba kepalanya ditarik ke belakang, dan Sang Mantan mulai melumat bibirnya, rakus.
Hmmmmmmmppppppp, ah, ssssss. Cup, slurppp. Kaaaa, ahhhh, remes yang keras.
Tanpa menunggu perintah dua kali, Sang Mantan kembali meremas buah dada Revi, kali ini lebih keras. Setelah beberapa lama, tangan kanannya turun ke arah selangkangan Revi, dengan cepat diselikpannya tangan ke dalam celana jens Revi.
Aaaahhhhh, jangan kesitu Ka. Revi berusaha menepiskan tangan Sang Mantan, namun kalah tenaga dan dia sendiri pun sudah sangat bernafsu, membuat usahanya sia-sia. Di bahwah sana, tangan Sang Mantan mulai memainkan jemarinya di atas belahan vagina Revi, masih di luar celana dalamnya, namun ini membuat dia semakin tak kuasa, sebelumnya, cairan vagina Revi sudah mulai membasahi selangkangan, kini, ditambah dengan permainan Sang Mantan, perasaan yang Revi rasa semakin dahsyat. Dan tiba-tiba Aaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhh. Gelombang itu datang, orgasme. Orgasme pertama yang dia rasakan seumur hidupnya. Nikmat. Dan membuat dia lemas hingga hampir terjatuh, jika tidak ditahan oleh Sang Mantan.

Kenapa Yang? Keluar ya?
Revi hanya diam dengan nafas yang memburu.
Yasud, istirahat. Trus kita langsung berendam aja, enak, dingin-dingin gini berendem aer anget.
Mereka merapikan diri, terutama Revi, yang jilbabnya hitamnya sudah acak-acakan dan BH nya dia rapihkan kembali.

Tak lama, mereka sampai di tempat pemandian air panas. Revi awalnya berfikir mereka akan menggunakan kolam besar, namun dia di bawa ke belakang, ke arah kolam yang berada di dalam kamar.
Huh? Serius Ka? Mau masuk ke situ? Berdua?
Emang kenapa Yang? Gak mau?
Hmmmm, bukan gitu. Tapiiiiii, tadi aja di tempat terbuka Revi abis, apalagi di dalem, pasti lebih abis lagi.
Hahaha, dasar. Gak lah. Emang mau diapain? Udah, yuk masuk.
Mereka berdua kemudian masuk ke salah satu kamar. Disertai pandangan mesum dari penjaga. Di dalam Sang Mantan mulai membuka pakaian, sampai hanya boxernya yang tersisa.
Buka bajunya Yang.
Idih, maunya. Weee.
Revi berpura-pura tidak mau kala sesaat kemudian Sang Mantan maju dan mulai membuka jaketnya. Sambil berusaha mencium, Sang Mantan perlahan melawan penolakan Revi yang tidak seberapa. Perlahan jaketnya dilepas, kemudian kaosnya lepas dari badan Revi. Masih dengan kerudungnya, Sang Mantan kemudian diam, Idah Yang. Dan lalu dilanjutkan dengan tangannya yang menyentuh jilbab Revi, Buka ya? bertanya namun tidak berharap jawaban, jemarinya mulai melepaskan bros Revi, melepaskan penitik yang ada di jilbanya. Kemudian dia melepas ciput Revi. Rambut Revi kemudian jatuh tererai, hitam, panjang sepunggung.
Revi hanya tersenyum, dan disambut uleh ciuman Sang Mantan di leher Revi yang putih dan mulus. Ciumannya terus merambat ke bawah, dada revi habis dijilati, sebelum lidah Sang Mantan menyapu habis kedua buah dada Revi. Dia melakukan itu sambil melepaskan kancing celana jeans Revi. Melepasnya sampai bawah, namun tangannya berhenti kala dia akan melepas celana dalam.

Hmmm, gak boleh Ka. Sampe sini aja ya?
Rasa kecewa terpancar, namun Sang Mantan cukup baik untuk menurut. Setelah menyimpan dengan rapi seluruh pakaian, mereka berdua turun, masuk ke dalam kolam, beberapa saat mereka bercengkrama sambil menikmati air hangat, sampai Sang Mantan mulai menggoda lagi buah dada Revi. Dan Revi pun mulai tergoda.
Aaaahhhh, enak banget Ka, terus, mainin puting Revi. Sedootttttt, aaaaaaaaaaaaaahhhhhhhh.
Susu kamu bagus banget Yang, bulet, empuk, slurrppp, gemes. Udah dipegang siapa aja?

Kaka doang. Ihhhhhhhhhh, aaahhhhhhhhm, di apain? Enak banget. Aaaakhhhhh, pelannnnn. Akh, pelan-pelan Ka, akh, kaaaa. Owh, pasti susah ilang deh.
Nafas ke duanya sudah berat. Dan Sang Mantan kemudian mengangkat Revi untuk duduk dipangkuannya, membelakangi dia. Kembali kedua tangannya mempermainkan buah dada Revi dari belakang, meremasnya keras-keras.
Oooooooooohhhhh, Kakaaaaaaaaaaaaa…..

Revi berteriak, ketika tangan kanan Sang Mantan kembali mengelus vaginanya dari dalam air. Dan kini, lebih gilanya lagi, jari telunjuk Sang Mantan menyentuh langsung bibir vagina Revi dengan cara menyingkirkan kain celana dalam Revi ke samping.
Dalam keadaan saling bernafsu, Revi kemudian menyambar bibir Sang Mantan, melumatnya, atau lebih tepatnya menggigitnya.
Aaakh, sakit Yang, pelan. Sang Mantang mengeluh ketika dirasakan sakit di bibir bawahnya yang digigit Revi.
Revi hanya tersenyum, kemudian diam, panik.

Ka, ada yang ngintip.
Gak ada.
Ada, itu.
Biarin aja. Dan kembali dia menciumi telinga Revi, berusaha membangkitkan lagi nafsu Revi. Dia berhasil. Revi sudah tidak peduli lagi dengan ada atau tidak adanya pengintip. Dia hanya peduli dengan orgasme yang akan dia dapatkan.
Dan Aaaaaaaa, Kaaaaa, pipissssssssssss..

Keluar, badan Revi mengejang hebat dalam air. Sang Mantan tau, Revi sudah sampai. Dia kemudian mengangkat badan Revi keluar dari air, membaringkannya, dan kembali mencium bibirnya yang indah itu seakan tidak mau dilepaskan. Tangannya kembali ke bawah, namun kali ini menyusup dari atas celana dalamnya, pertama rambul vaginanya yang basah di sentuh oleh Sang Mantan, kemudian lubang kenikmatannya, lalu kitorisnya dimainkan.
Kakaaaaaaaaaaaaa, udahhhh, lemes. Ah, ah, aaaaaaaaaaaaaaaa…..
Sang Mantan kini bebas untuk menggesek vagina Revi dengan tangannya. Menekannya. Dan mempermainkannya, mulut Sang Mantan kini mempermainkan buah dada kanan Revi. Menggigit puting Revi dengan keras, gemas dia lalu meremas buah dada kiri Revi. Sampai tubuh Revi terangkat. Mulut Revi terbuka, namun tidak mengeluarkan suara, badan Revi mengejang dahsyat. Menggelepar beberapa saat untuk kemudian diam. Cairan vagina Revi dirasakan oleh Sang Mantan keluar sangat banyak.

——bersambung——

Author: 

Related Posts