Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 24

Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 24by adminon.Cerita Sex Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 24 Dark Secret [Setiap Orang Mempunyai Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 24 Chapter 17 : MASSAGE AND ACCIDENT? ———————– Bagaimana hasil pemeriksaanmu? Tanya sang atasan kepada bawahannya. Sepertinya ini kecelakaan pak, cuma ada sedikit keanehan pak, jawab bawahannya dengan lambat. Keanehan apa? selidik sang atasan. Didalam perut korban, ditemukan flashdisk yang terbalut dengan kondom pak, […]

tumblr_nnocw91Zm21tc7z84o1_540tumblr_nnnonsNOeP1unq1y7o3_500  tumblr_nnqjr4Ou371tp7wv0o1_500Dark Secret [Setiap Orang Mempunyai Sisi Gelap Dalam Dirinya.] – Part 24

Chapter 17 : MASSAGE AND ACCIDENT?
———————–

Bagaimana hasil pemeriksaanmu? Tanya sang atasan kepada bawahannya.
Sepertinya ini kecelakaan pak, cuma ada sedikit keanehan pak, jawab bawahannya dengan lambat.
Keanehan apa? selidik sang atasan.
Didalam perut korban, ditemukan flashdisk yang terbalut dengan kondom pak, jawab si bawahan dengan ragu.
Hanya itu?
Iya pak, jawab bawahannya dengan pelan. Tapi pak, sekarang ada masalah lain lagi, katanya dengan takut.
Masalah apa lagi?
Flashdisk itu sekarang hilang pak, tidak ada diruang barang bukti!
APA?

———————–
Andri POV.

Mbak, kok pintunya gak ditu..tup..?

Upsssss!

Dengan malas aku menjauh dari si-celana-dalam-putih, yang sekarang terlihat sangat menantang dengan wajah yang merona merah, bibir terbuka dan nafas yang terengah.

Halo Lis, sapaku pada Lisa yang berdiri bengong di pintu.

Eh, pintunya kebuka, jadi Lis masuk, eh itu. Lis gak tau.eh itu, dengan terbata Lisa menjawab pertanyaanku.

Gak apa-apa kok Lis, sahutku sambil memasang kabel roll didinding dan menyambungkannya ke charger.

Jangan salah paham Lis, ini, ini gak seperti yang kamu lihat, kata si-celana-dalam-putih, memberi penjelasan. Dia lalu beranjak ke sofa dan duduk, mukanya yang memerah, memandang kebawah.

Eh, kalau mas masih mau ngobrol sama Mbak Lidya, kata Lisa. Menunggu reaksiku dan si-celana-dalam-putih.

Gak apa-apa, jawab si-celana-dalam-putih.

Gak apa-apa kok Lis, Jawabku sambil tersenyum.

Aku melangkah kearah laptop.

Untung tidak sampai mati, pikirku melihat indikator baterai yang terus berkedip.

Gak jadi pergi ma Mas Frans Lis? Tanya si-celana-dalam-putih. Mengalihkan perhatian.

Seolah ingin Lisa tidak ada disini, atau hanya perasaanku saja?

Jadi mbak, jawab Lisa dengan malu-malu.

Hmmmm, jadi Lisa dengan Frans?

Oke, transfer finish.

Lid, aku pulang dulu, semua data sudah ada di drive D, kataku sambil beranjak dari pintu.

Iya mas, sahutnya pelan.

Kupandang wajahnya, namun dia tidak mengangkat mukanya.

Kok cepat mas? Tanya Lisa. Sedikit bingung dengan keadaan kami.

Cuma copy data saja kok Lis,duluan ya kataku sambil beranjak keluar.

Semoga dia tidak melihat tonjolan didepan celanaku.

Kulihat wajah si-celana-dalam-putih masih terus memerah.

Malu atau mau?

Aku melangkah ke lift dengan badan yang pegal dan tonjolan di celana dan nafsu yang butuh pelampiasan!

Terbayang wajah Sisca dan Nia, aku melangkah ke mobil, saatnya melemaskan yang tegang, dan menegangkan yang lemas.

Tak berapa lama kemudian aku sudah berada dibelakang kemudi. Next stop, Bidadari Massage.

Ahhh.. Hari yang penuh dengan masalah. Kematian Ade. Email aneh dari Ade.

Email itu, aku teringat email Ade:

From : [emailprotected]
/* */
Subject : Alfa Medika Security
Sore Boss,
Terlampir detail running test yang saya lakukan. File berupa image dan text serta video.
Note : ada hal unik yang saya temukan, saya kirim dengan video.
Thanks,
Ade
3 Attachment————————————————————————————————————————
Alfa Medika Security Report.pdf
Alfa Medika Running Test.rar
Trojan.avi
—————————————————————————————————————————————–

Hmmmm, email yang unik, tapi videonya.

Entah harus tertawa atau marah, mungkin ne anak salah kirim video. Yang dikirim ternyata salah satu video x-art!

Membayangkan isi video itu, yang dengan senangnya aku copy ke cloud pribadiku, membuat Andri junior membengkak dengan parah.

Oke, Nia, wait me there!

Beberapa menit kemudian aku sampai di Bidadari Massage. Parkir terlihat penuh, terpaksa aku parkir agak diluar.

Hmmm, mungkin perlu security atau petugas parkir khusus, pikirku melihat banyaknya kendaraan yang sedang terparkir. Aku menuruni tangga yang mengantarkanku ke resepsionis.

Heran, padahal bukan hari libur kenapa banyak mobil disini?

Tumben mas? sapa Nia sambil tersenyum.

Kan sudah sering aku kemari, kok dibilang tumben?

Maksudnya, tumben hari kerja kemari, ada yang tegang? katanya sambil melirik kearah celanaku.

Tau aja kamu Nia, kok ramai sekali, ada apa? tanyaku.

Ini ada bookingan dari club mobil mas, lumayanlah, katanya sambil tersenyum manis.

Wah, gak ada yang free dong nih?

Please, bilang ada. Sudah cukup kesialanku hari ini.

Hmmm, semua nemenin tamu mas, kecuali, kata Nia membuatku penasaran.

Kecuali aku mas, katanya sambil tersenyum lebar.

Well. Satu kabar baik hari ini.

Wah, kebetulan nih, lama gak ngerasain sedotan mautmu, kataku ambil tersenyum jahil.

Ih, mas ini, bentar mas, mau masang tanda tutup dulu, biar gak ada yang ganggu nanti,hihihi katanya sambil beranjak kedepan.

Tapi ada satu masalah lagi, serunya saat kembali sambil memanyunkan bibirnya yang tipis dan basah.

Apa Nia? tanyaku, tak sabaran.

Kamarnya full mas, Jawabnya. Ada tempat yang bagus si mas, cuma agak terbuka, katanya sambil melirikku dengan pandangan yang menantang.

Penisku yang dari tadi terkurung terasa sesak!

Ayo Nia, desakku sambil menarik Nia.

Eh, mas tau tempatnya? selanya sambil tersenyum jahil.

Shit!!!

Dimana?

Disini mas, kata Nia, sambil mengangkat rok hitamnya yang pendek.

Kaki jenjangnya terbungkus stocking warna hitam yang serasi dengan garter belt yang hitam. Kemaluan Nia terbungkus oleh celana dalam hitam berenda yang transparan sehingga vaginanya yang mulus terbayang.

Wow.

Pemandangan yang membuat Andri junior semakin tertekan disarangnya.

Mas sini, pinta Nia ketika aku hanya diam memandang bagian bawah tubuhnya yang begitu seksi.

Dengan nafsu yang meninggi aku mendekati Nia. Tangannya dengan cepat membuka kancing celanaku dan menurunkannya sampai lutut.

Plok.Handphoneku terjatuh saking terburu-burunya.

Eh, maaf mas, kata Nia sambil menaruh handphoneku dimeja resepsionis.

Akhirnya, Andri junior bisa menghirup udara segar!

Uhhhhh, udah keras gini mas, pasti habis kentang ya? tanya Nia sambil berjongkok. Bibirnya yang tipis dan basah itu mulai menciumi kepala penisku yang berwarna merah, terangsang dan mengeras dengan sempurna.

Ahhhhh, tak kuasa aku untuk tak mendesah ketika kepalanya dengan cepat maju mundur dibatang penisku. Sesekali Nia memandang keatas, seolah menikmati ekspresiku yang keenakan atas sedotan mautnya.

Ahhhh, terus Niaaaa., ceracauku ketika penisku terus dimasukkan sampai ke tenggorokannya. Bisa kurasakan ketika kepala penisku menggesek ujung dari tenggorokannya.

Jepitan hangat rongga kerongkongannya begitu nikmat.

Sangat nikmat.

Deep throat yang sangat handal.

Kepala Nia mendongak keatas, ekspressi wajahnya yang terselimuti nafsu membuat penisku semakin keras. Aku tak tahan lagi!

Ploooopppp bunyi penisku yang kutarik dari mulut Nia.

Terlalu sayang jika aku orgasme dalam mulutnya, sebelum bisa merasakan bagian tubuhnya yang lain.

Berdiri Nia,pintaku sambil memegang tangannya dengan lembut. Dengan perlahan, kusibakkan celana dalamnya kesamping, Kujelajahi vaginanya yang polos dengan jariku, sebelum berhenti dibagian atas vaginanya.

Iya, klitorisnya!

Ahhhhh mas, sssttttttttt, jangan dimainin dong, serunya ketika tanganku dengan jahil mengusap-usap lembut klitorisnya yang sudah menegang dengan sempurna.

Sssttttt, mas, desisan pelan mulai keluar dari bibir sicantik yang kini bersandar dibahuku. Sementara itu, aku bisa merasakan cairan vagina semakin banyak keluar dan membasahi ujung-ujung jariku.

Giliranku!

Aku berlutut diatas lantai keramik yang dingin, kaki kanan Nia kuangkat sedikit, sehingga vaginanya lebih jelas terlihat. Bibir luar vaginanya masih terlihat berwarna merah.

Sedikit aneh mengingat berapa jenis dan banyak penis yang memasukinya.

Perlahan kudekati daging kecil yang berwarna merah muda, yang sekarang membesar.

Ahhhhhhhh, mas. Terus, hisep disana mas, i..yaaaahhhh, disa…na, tepat disana……, racau Nia, tak kuasa menahan kenikmatan yang kuberikan kepadanya.

Sambil lidahku menjilat klitorisnya, kumasukkan jariku kedalam vagina mulusnya, satu, dua dan akhirnya tiga jari!

Massssss, pee..lanin, desah Nia semakin tak terkontrol.

Degg

Entah kenapa aku merasa kami diawasi.

Nia, sepertinya ada yang ngawasin kita, kataku pada Nia.

Gak ada kok mas, kalaupun ada, biarin aja, beramal sekali-sekali mas.ahhh! kata Nia tak peduli.

As you wish

Ahhhh mas sudah,,, masukin massss,,please,wajah Nia yang terangsang berat membuatku tak tahan.

Kuajak Nia kearah kursi, aku duduk dikursi dan memandang Nia sambil tersenyum

Seolah mengerti, Nia berjalan dengan pelan kearahku, rok mininya diangkat dengan sensual, jari-jemarinya dengan pelan membuka dua kancing kemeja yang dikenakannya dan berjalan kearahku, perlahan jari itu mengarah kebelakang punggungnya dan melepas kaitan bra. Akhirnya branya yang kekecilan dilepaskan dari sela-sela kancing yang terbuka.

Perlahan

Dengan perlahan branya yang terlihat tidak mampu menampung ukuran payudaranya diletakkan diatas meja resepsionis.

Penisku semakin mengeras melihat live show yang diperlihatkan Nia.

Nia, sini.. entar keburu ada yang lihat, pintaku tak tahan.

Hihihi, gak sabaran banget mas, pake ini dulu, jawabnya. Sambil mengambil kondom dari laci mejanya.

Yah, tinggal dua, desahnya, sebelum menghampiriku.

Dengan gaya manja, Nia memasangkan kondom dengan mulutnya di penisku!

Ufffhhtttttt, seksi.

Dengan sangat pelan, Nia menyibakkan celana dalamnya kesamping. Terlihat lagi vagina mulusnya.

Masih dengan gaya yang sama, Nia melangkah mendekat, perlahan, vagina itu didekatkan dengan penisku yang pasrah menunggu.

Emmmmhhh…, desisku pelan ketika ujung penisku mulai menyeruak masuk kedalam lembah basah Nia.

Sssssstttttttt.ahhhhhhh, massss! desisnya. Menambah tensi persetubuhan kami.

Uffffggttttt, besar dan panjang mas! Desisnya ketika seluruh batang penisku berhasil masuk lorong sempit, basah yang terasa memijat batang penisku dengan pelan.

Jangan dulu mas! pinta Nia ketika aku hendak menggerakkan penisku.

Seminggu lebih gak dipake mas, dapet jatah pertama langsung yang jumbo gini,katanya sambil meremas payudaranya sendiri.

Ehhmmm massss nakal, serunya ketika aku mulai menggerakkan penisku, jepitan vaginanya sangat terasa.

Massss, kuluminnnn, kata Nia sambil mengarahkan putting payudaranya yang terlihat menonjol.

Ahhhhh masssssss, nikmattttt.ahhhhh, sekarang, desisan Nia berubah menjadi teriakan-teriakan kecil yang dibarengi dengan hentakan pantatnya yang semakin cepat dipenisku.

Sssttttt massss, kerasinnnnnn, pinta Nia, setengah mendesah, setengah menjerit nikmat. Vaginanya terasa menyedot sperma keluar dari penisku.

Plokplokplok

Suara pertemuan vagina dan penisku.

Suara itu semakin cepat dan cepat. Bisa kurasakan cairan vagina nia merembes pelan membasahi pahaku. Vaginanya yang tadi terasa sempit, perlahan mulai lancar menerima penisku. Desahanku yang terhalang puting payudaranya bersahutan dengan desahannya yang semakin keras.

Sedi..kit la..gi mas,, hah..hah.hah. nafas Nia semakin cepat. Goyangan pinggulnya semakin cepat dan kasar menghajar penisku!

Dan akhirnya

Sssttt,,,,ooouuuwghhhh masssss, Nia,,, dapettttt,,,,,ahhhhh, seiring dengan dengan teriakannya. Vaginanya kurasakan meremas penisku dengan keras. Batang penisku terasa hangat disiram cairan kenikmatan Nia yang meluber hingga keluar. Pinggul Nia mengejang kaku beberapa saat sebelum yang punya terkulai lemas dipangkuanku.

Hah..hahhah,jangan dulu mas, ngilu, pinta Nia memelas ketika aku ingin menggerakkan penisku lagi.

Plooppp, suara pelan ketika Nia bangkit, yang menyebabkan penisku terlepas dari vaginanya.

Yah, nanggung Nia, gumamku ketika Nia bangkit dan mengambil minum dimejanya.

Bentar mas, ngilu banget nih, katanya. Sambil menunjuk vaginanya yang berwarna semakin merah.

Lagi bentar nih Nia, pintaku memelas.

Hmmmm, lewat belakang mau? tanya Nia dengan tatapan yang menggoda.

***
Lidya POV.

Mbak, maaf ya ganggu, abis mbak gak tutup pintu sih,hihihi kata Lisa sambil tersenyum menggoda.

Sudah cinlok nih sama si-mata-keranjang? lanjutnya penasaran.

Gak gitu gitu kok Lis, tadi itu hanya terbawa keadaan saja elakku sambil mengunci pintu.

Keadaan apa mbak? tanya Lisa sambil mengerutkan keningnya.

Sambil duduk disofa kuceritakan dari awal aku masturbasi yang kentang, kedatangan Nick dan adegan ketika Nick memijat dan menciumku.

Hahaha, berani taruhan, Mas Andri pasti sekarang lagi tegangan tinggi, repot dah tu nyari penyalurannya, hihihi tawa Lisa mendengar ceritaku. Dia sekarang hanya mengenakan bra dan celana dalam pink. Terlihat manis ditubuhnya yang mungil. Tak terasa vaginaku kembali melembab.

Gak si-mata-keranjang saja Lis, kataku dengan menerawang sambil menoleh kedepan, pemandangan Lisa membuat birahiku naik kembali.

Perlu bantuan mbak? tanya Lisa sambil melangkah pelan dibelakangku.

Sebelum aku sempat menjawab, Lisa menarikku pelan kesamping sofa, tangan kanan Lisa terasa menyelusup masuk kedalam jubah mandiku dan memilin pelan putingku yang sudah sedikit mengeras. Tangan kirinya menyibak pelan jubah mandiku diantara pangkal paha dan menemukan gundukan yang sudah terasa basah oleh cairan birahi.

Hhmmmmm, mbak, sudah basah dibawah.., gumam Lisa sambil menggigit pelan daun telingaku sebelum berubah menjadi jilatan yang basah di leher jenjangku.

Lis, gumamku.

Terlalu malu untuk meminta lebih.

Hmmm, nikmatin saja mbak, kata Lisa sambil dengan terampil lidahnya membelai leherku yang terasa sensitif untuk disentuh.

Ssstttt… ahhh Lis! teriakku ketika jarinya dengan nakal menjepit klitorisku yang sudah mengeras. Bisa kurasakan vaginaku semakin basah dibawah sana. Jari Lisa dengan terampil menjepit, mengusap dan membelai klitorisku yang sudah sangat sensitif. Kakiku terasa lemas merasakan kenikmatan yang diberikan Lisa.

Perlahan tanganku yang dari tadi hanya membelai kepala Lisa, kuarahkan kecelana dalamnya. Bisa kurasakan lembab dibagian tengahnya.

Rupanya Lisa juga sudah terangsang!

Kuselipkan jariku ketengah celana dalamnya, untuk mendapatkan sebuah lubang yang terasa basah.

Ini saatnya pembalasan, pikirku, mengingat apa yang telah dilakukan Lisa sebelumnya.

Dengan pelan, aku masukkan tiga jariku kedalam vaginanya yang cukup basah.

Ahhhhhh,,,mbak! serunya, lebih karena terkejut.

Ehmm, sahutku sambil mempercepat kocokan jariku. Bisa kurasakan vagina Lisa menjepit erat jariku, rupanya belum bisa menyesuaikan terlalu cepat.

Stttttt,,,,ahhhhh,Liss..! sekarang giliranku yang berteriak ketika Lisa merespon kocokan kasarku divaginanya dengan menggesek kuat klitorisku dan meremas keras kedua payudaraku bergantian.

Ahhhh… Liss…

Sssttt,, ahh mbak, cepetin!

Desah dan jeritan kami saling bersahutan menghiasai ruangan.

Dengan bernafsu aku mencari bibir Lisa dan melumatnya dalam suatu cumbuan yang panas. Lidah kami saling membelit dan tak terasa air liur kami menetes. Ciumana kami panjang, basah dan menggoda. Bisa kurasakan Lisa sama bernafsunya denganku. Kami bagaikan pasangan yang lama tak bertemu dan hanya ada waktu sebentar untuk melampiaskan birahi yang tersimpan.

Nafasku dan nafas Lisa semakin cepat dan bersahutan. Bisa kurasakan tubuhku dan tubuh Lisa mulai menegang. Vagina dan klitorisku terasa semakin panas!

Dan akkhirnya….

Lis! Mbak da..pettt..stttttttttttt,

Lisa juga mbak!aaaahhhhhhhhhh….hah.hah.hah

Pinggulku dan pinggul Lisa bergerak tak terkendali ketika orgasme itu mendera. Cairan hangat bisa kurasakan dijemariku yang saat ini masih berada di vagina Lisa. Begitu juga kurasakan vaginaku mengeluarkan cairan yang membasahi tangannya.

Ahhh Lis, desisku pelan ketika puncak orgasme itu terlewati. Lututku terasa lemas.

Dengan tangan masih mengeluarkan bau khas kewanitaan masing-masing, kami berpelukan disofa sebelum gelap datang menyelimuti.

***

Galang POV.

Apa yang kaucari disini Lang? tanya Herman ketika kami berada di hotel yang menjadi saksi bisu tewasnya Ade Mahendra.

Benda yang harusnya ada disini namun tidak ada disini dan benda yang harusnya tidak ada disini namun ada disini, jawabku pelan.

Bisa kau mengatakannya dalam bahasa yang bisa dicerna otakku yang sudah tua ini? tanya Herman sambil menggaruk kepalanya.

Intinya aku mencari apa yang seharusnya ada disini, yang harusnya dimiliki oleh korban, tapi tidak ada disini, jawabku pelan. Coba kau cek list barang-barang yang ditemukan oleh anak buahmu, kataku lebih lanjut.

Herman mengeluarkan notesnya, dengan perlahan dia membaca barang-barang yang ditemukan di TKP.

Dompet kulit (berisi kartu identitas, uang tiga ratus ribu rupiah).Satu bungkus rokok, sisa 7Satu buah korek api.Tas kecilPakaian (celana panjang, kemeja, celana dalam)1 bungkus kondom (sisa 1)
Itu saja Lang, kata Herman.

Tidak kau temukan barang yang seharusnya ada disini, namun tidak ada? tanyaku, sedikit geli dengan ekspresi Herman.

Sudahlah, katakan saja Lang, kata Herman setelah berpikir sejenak.

Handpone, kataku singkat. Kau dengar bagaimana maniak gadgetnya korban, namun tidak kutemukan satu buah handpone atau gadget sejenisnya, disini atau di kamar korban, kataku pelan.

Ekspressi Herman berubah dari keheranan menjadi pengertian.

Jadi maksudmu, korban tidak bunuh diri, kecelakaan, atau meninggal secara wajar? tanya Herman mencari kepastian.

Kemungkinan besar tidak, jawabku.Dan satu hal lagi yang tidak ada disini, viagra, kataku setelah diam sejenak.

Kulihat tampang penasaran di wajah Herman.

Jadi menurutmu, korban dibunuh? tanya Herman, berubah serius.

Kemungkinan, iya

Oleh siapa? Dan motifnya apa? tanya Herman.

Pelakunya masih belum jelas, untuk motifnya mungkin besok kita bisa tanyakan, jawabku sambil menghela nafas.

Tanyakan ke siapa?

Andri CEO G-Team

***

Andri POV

Hmmmm, lewat belakang mau? tanya Nia dengan tatapan yang menggoda.

Pasti, sahutku dengan senyum lebar.

Bentar mas, sahut Nia sambil menungging mencari sesuatu dilaci mejanya..

Belahan vaginanya yang baru saja kuhajar terlihat merah, sementara itu, lobang sempit diatas vaginanya terasa menantang untuk segera dimasuki.

Ah, ini dia mas, seru Nia, sambil tangannya memegang sebuah botol pelumas dan dildo.

Pelan-pelan ya mas, dah lama gak main belakang nih, katanya sambil mengoleskan pelumas dibelahan pantatnya, tangannya juga dengan cekatan mengoleskan pelumas di batang penisku.

Dengan posisi aku yang duduk, pelan-pelan pantat Nia bergerak turun, turun..turun.

Ugghhhtttt, Nia, sempit! seruku ketika penisku terasa dijepit dengan kuat.

Ouwhhh,,hoh..hohMas diemin bntar, sakit, lirih suara Nia. Tangannya kemudian memasukkan dildo yang dbawanya kevaginanya dan mengocoknya pelan.

Perlahan, pantat Nia semakin turun, hingga setengah penisku tenggelam dalam lobang pantatnya.

Gilaaaaa! Besar banget mas, ahhhh……sttt, racau Nia ketika tangannya tanpa henti menggerakan dildo itu divaginanya.

Tanganku tak tinggal diam, kuremas dan kupilin puting dan payudara Nia bergantian.

Pelan tapi pasti Nia menggerakkan pantatnya naik dan turun.

Ahhh, mas, berhenti dulu, kata Nia sambil kembali mengoleskan pelumas di pantatnya dan penisku.

Plooopppp,

Berbeda dengan tadi, sekarang penisku relatif lebih mudah masuk ke pantat Nia. Dengan gerakan sedikit cepat dan keras, aku hentak pantat Nia dari belakang.

Plaakkkkk….

Masssss! Sakit, rintih Nia ketika kutampar pantat mulusnya dengan keras.

Wajah Nia memerah menahan nafsu yang mendera.

Penisku terasa dipijat dengan sangat nikmat oleh pantat Nia.

Ahhh,, massss,,, penuh sekali rasanya, dengus Nia ketika tangannya sibuk memaju mundurkan dildo divaginanya, sedangkan tangan satunya menggesek klitorisnya.

Tok.tok.tok…

Kudengar suara sepatu dari arah belakang.

Nia, ada orang, katakau ketika suara itu semakin mendekat.

Biarin aja mas, tanggung,hah..hah…hah… jawab Nia dengan nafas yang menderu.

Mbak, bi…sa, suara pria membuatku menoleh.

Seorang anak muda di batas usia 18 tahun terlihat terpaku melihat kegilaan yang kami lakukan.

Minta kondom, katanya setelah sempat terpaku beberapa saat.

Cuma sisa lagi satu…sssttttt, aahhhh, nanti aku beliinnn…ahhhhhh, desah Nia ketika pantatnya terus kuterjang.

Eh… i…ya mbak, terlihat nafsunya naik melihat yang kami lakukan.

Kukedipkan sebelah mataku sambil memberi isyarat mengajaknya bergabung.

Kulihat mulutnya membentuk kata, boleh? dan sekarang?

Kubalas dengan anggukan kecil. Ingin kuberikan pengalaman yang berharga kepada anak ini.

Dengan tergesa dia menurunkan celananya. Terlihat penisnya yang tidak terlalu besar sudah mengacung tegak. Dengan langkah pelan dia mendekati kami.

Kupegang tubuh Nia sehingga menempel kearahku. Tangannku meremas payudaranya bergantian.

Ehh, mau apa? kata Nia, tersadar kalau ada orang lain yang mendekatinya.

Nikmatin aja Nia, bisikku sambil menarik dildo dari vaginanya.

Ih, masss nakal, gerutu Nia dengan wajah yang memerah.

Namun aku tahu dia juga menikmatinya.

Namamu siapa? tanya Nia ketika dengan pelan mulutnya menghisap penis yang tersaji didepannya.

Eh,,,sttttttt….Tomi, tante, jawabnya pelan, seiring dengan penisnya yang dikulum dengan ganas oleh Nia.

Ugghhhhh, sakit tan, rintihnya ketika Nia dengan gemas mencubit bolanya.

Tante…tante, panggil mbak, kata Nia gemas.

Iya mbak,sudah hisepnya mbak, Tomi gak tahan, pinta Tomi dengan wajah yang merah padam.

Sini, kata Nia sambil memasangkan kondom kepenis Tomi yang sudah menegang dengan keras.

Perlahan penis Tomi membelah celah diantara paha Nia.

Plaaakkkkkk…plaaakkkkkk…..

Aduh, mas nakal, seru Nia ketika dengan gemas aku menampar pantatnya.

Ssssttt,,,, aduuhhh, pelan-pelan mas, kegencet nih,aahhhhh….,desah Nia ketika dengan keras aku dan Tomi menghentak penis kami dilobang masing-masing.

Tambah sempit Nia, bisikku sambil tetap mengocok pelan pantat Nia.

Enak banget mass,sssttttt, desis Nia ketika gerakanku dan Tomi saling melengkapi. Penis Tomi membuat lubang pantat Nia serasa menyempit.

Plok..plok..plok…

Bunyi pantat kami saling beradu, dengan Nia berada ditengah.

Tanganku terus meremas payudara Nia.

Sssttt,,, masssss, cepe…tin…,rengek Nia ketika orgasme itu semakin dekat dengannya.

Penisku terasa dipijat oleh pantat Nia. Perlahan kurasakan spermaku mulai mengumpul menjadi satu.

Niaaa, mas mau nyampe, bisikku ditelinga Nia.

Niaaa juga masss,,,ssstttttttt,

Plok..plok…plokk…

Aku semakin cepat menggerakkan penisku. Spermaku sudah diujung!

Dan akhirnya…

Crroottttt…crroootttt…crrrootttt…

Aaaaaaaahhhhhh, Niaaaaa,hah…hah..hah, teriakku.

Nia nyam…peee…massss,,ahhhhhhhhhh, jerit Nia tak kalah keras. Pinggulnya bergerak dengan liar sebelum berhenti dan kepalanya terkulai dipundakku.

Mbaakkkk, Tomi gak kuattt….. teriak Tomi.

Hah…hah..hah…

Hosshhhh…hoshhh.hoshhh

Hah…hah…hah…

Deru nafas kami menjadi satu. Aroma persetubuhan kami menjadi satu. Begitu jelas. Begitu merangsang.

Setelah itu kami membersihkan diri di toilet yang sempit dan kecil.

Sempit!

Mungkin itu alasan Nia ML di depan denganku tadi.

Eh, tadi Tomi minta apa? Tanya Nia ketika kami sudah kembali ke resepsionis.

Kondom mbak, didalem kondomnya habis, kata Tomi sambil menunduk.

“Perlu berapa Mi?” tanya Lisa.

Wah, perlu banyak mbak, kata Tomi bingung.

Whats? Gak ada kalau segitu, harus beli dulu, terang Nia.

Mobil Tomi gak bisa keluar mbak, boleh pinjam mobilnya mbak? Tanya Tomi.

Pakai mobilku saja, kataku sambil memberikan kunci mobilku.

Jeep Rubicon hitam, yang berada didepan, kataku padanya.

Wah, thanks mas, serunya kepadaku seraya mengambil kunci dari tanganku dan segera berlalu kedepan.

Gimana Nia? Puas? tanyaku kepada Nia yang sedikit gelisah duduknya.

Mas nakal, sakit tau mas, ne duduknya sulit, omel Nia sambil mencubit tanganku dengan ringan.

Tapi kalau dikasi lagi mau kan? Tanyaku dengan senyum mesum.

Kalau bertiga lagi ogah deh mas, Nia…, kata Nia sambil diam dan memandangku dengan mata yang dipenuhi dengan nafsu. Maunya berempat mas, senyum diwajah Nia membuatku terpana.

Berempat?

Oh yes!

DUUUUAAAAAAAAAAARRRRRRRRRRRRR!!!

Suara ledakan yang keras mengejutkanku dan Nia. Api terlihat dari tempatku memarkir mobil.

Mungkinkah?

Kuambil sebuah tabung pemadam di dinding dan melangkah keluar. Nia ikut dibelakangku. Bisa kudengar suara-suara lain disekeliling kami. Rupanya suara ledakan itu membuat orang-orang menghentikan kegiatan syahwat mereka dan berlari keluar kamar.

Pemandangan didepanku membuat sejenak nafasku berhenti. Mobilku terbakar dikursi penumpang, bisa kulihat sebuah tubuh terkulai. Sadar, aku berlari dan menyemprotkan fire extinguishers kebagian mobil yang terbakar. Aku berusaha menyeret tubuh yang sebagian mukanya sudah hancur itu keluar, menjauhi api yang berkobar menuju ketangga.

Hah..hah..hah,nafasku menderu ketika berhasil sedikit menyeret tubuh yang terkulai itu. Sebuah benda berkilau menarik perhatianku, dan tepat ketika aku menaiki anak tangga, hendak mengambil benda itu, sebuah desisan samar terdengar, dan rasa sakit menghantamku.

Mas. Mas kenapa? teriak Nia ketika aku terjatuh.

Dan kemudian gelap.

Author: 

Related Posts