Cerita Sex Tusuk Konde – Part 3

Cerita Sex Tusuk Konde – Part 3by adminon.Cerita Sex Tusuk Konde – Part 3Tusuk Konde – Part 3 Malam Perhitungan Malam itu Astrid masih sibuk didepan monitor laptopnya, hasil riset tadi pagi mulai disusunnya, file-file photo dari ponselnya telah dipindahkannya pada harddrive laptop,untuk kemudian dilampirkannya kedalam laporan risetnya. ” Fuhhh… Selesai juga semuanya ” seraya ditutupnya program microsoft powerpoint yg digunakan sebagai media penyusun laporannya. Sambil menikmati alunan […]

multixnxx- Kosaka Kosaka Asian plays with tongue ar-12 multixnxx- Kosaka Kosaka Asian plays with tongue ar-13 multixnxx- Kosaka Kosaka Asian plays with tongue ar-14Tusuk Konde – Part 3

Malam Perhitungan

Malam itu Astrid masih sibuk didepan monitor laptopnya, hasil riset tadi pagi mulai disusunnya, file-file photo dari ponselnya telah dipindahkannya pada harddrive laptop,untuk kemudian dilampirkannya kedalam laporan risetnya.

” Fuhhh… Selesai juga semuanya ” seraya ditutupnya program microsoft powerpoint yg digunakan sebagai media penyusun laporannya.

Sambil menikmati alunan musik lembut dari laptopnya disandarkan kepalanya pada sandaran kursi sambil memejamkan mata.

Dirumah yg cukup luas dikawasan Menteng, Jakarta, Malam itu Astrid hanya seorang diri, setelah sore tadi ayahnya menelponnya bahwa malam ini masih ada diluar kota untuk urusan tugas.
Prayogo, ayah Astrid adalah seorang arsitek kenamaan ditanah air, yg pada masa mudanya sempat disekolahkan kenegeri Belanda oleh pemerintah karna prestasinya yg menonjol. Selama empat tahun disana Proyogo muda berkenalan dengan seorang gadis belanda, hubungan dua insan yg berlainan budaya itu berlanjut hingga kejenjang pernikahan. Prayogo memboyong istrinya ketanah air hingga melahirkan Astrid. Namun kebahagiaan keluarga itu tak berlangsung lama, istri Prayogo yg juga merupakan ibu Astrid meninggal dunia disaat Astrid berusia 5 tahun akibat kanker otak yg dideritanya. Semenjak itu Astrid lebih banyak dititipkan dirumah keluarga Heni, yg merupakan kakak perempuan Prayogo. Heni bersuamikan seorang perwira polisi yg bernama Handoyo.

Hal buruk menimpa Astrid saat ia berusia 6 tahun. Dibalik seragam polisi yg dipakainya, ternyata Handoyo adalah seorang pedofil. Pada suatu malam Handoyo mendatangi kamar Astrid, disanalah Astrid pertamakali direngut kesuciannya oleh Handoyo. Masih ingat sekali Astrid dengan ancaman pistol dikepalanya saat Handoyo memintanya untuk tidak menceritakan kejadian itu kepada siapapun, saat itu Astrid yg hanyalah seorang gadis kecil begitu takut. Dan kejadian itu ternyata bukanlah yg terakhir, karna setelah itu Handoyo masih sering melakukannya lagi hingga berlangsung selama satu tahun, sampai akhirnya nenek Astrid, yg adalah juga ibu prayogo tinggal dirumah prayogo, dan semenjak saat itu Astrid diasuh oleh sang nenek, yg pada saat Astrid menginjak dibangku SMU sang nenek pergi meninggalkannya untuk selamanya. Dan hingga saat ini Astrid hanya tinggal bersama ayahnya, yg semenjak ditinggal mati oleh istrinya memutuskan untuk tidak menikah lagi karna besarnya rasa cinta pada almarhumah.

Pengalaman buruk yg diterimanya dari Handoyo memberikannya trauma pisikis yg mempengaruhi perkembangan pribadinya, yg menjadikannya sosok yg tertutup dan kehilangan kepercayaan diri, dan itu berlanjut hingga saat ini.
Handoyo baginya bagaikan momok yg menakutkan sampai saat ini, begitu benci sekali dirinya pada lelaki setengah baya itu, bila mengikuti amarahnya, ingin rasanya dia mencakar wajah lelaki mesum itu. Bahkan sampai usia Astrid sedewasa ini Handoyo masih sering mencoba mengganggunya. Seperti dihari pernikahan sepupunya beberapa minggu lalu. Waktu itu Astrid mengenakan pakaian kebaya khas jawa-tengah, balutan kain jarik yg membungkus tubuhnya dengan begitu ketat, membuat bokongnya yg indah terlihat menantang, dan ketika ia bermaksud kekamar kecil, dirasakan sesuatu yg meremas bokongnya dari belakang, yg ternyata adalah Handoyo. masih ingat betul senyum mesum Handoyo pada saat itu, ingin rasanya dia menancapkan kuku-kuku jarinya dan menggerawuskannya pada wajah yg dibencinya itu, namun rasa takutnya mengalahkan semua amarah itu.

Alunan musik lembut dari laptopnya memberikan suasana yg rilek pada dirinya, hingga membawa jiwanya berada pada batas diantara keterjagaan dan keterlelapan, dirasakannya dimana dirinya seolah berada ditempat yg berbeda, seolah dirinya sedang menyaksikan suatu tayangan film.

Dilihatnya seorang pria berwajah kasar sedang menyeret sesosok tubuh wanita didalam hujan yg lebat. Tapi..bukan, itu bukan tayangan film yg disaksikannya, justru dialah wanita yg diseret oleh pria itu, Astrid dapat merasakan bagaimana butiran-butiran air hujan yg jatuh dari langit itu menusuk-nusuk diwajahnya, namun dia tak bisa bergerak sama sekali, seluruh tubuhnya serasa kaku, dicobanya untuk berteriak, tapi tenggorokannya serasa kelu, mulutnyapun seolah kaku, hanya matanya saja yg melotot.

” Dan leherku..apa yg terjadi dengan leherku ini, begitu nyeri rasanya. Apa yg telah dilakukan pria ini padaku.?” pikir Astrid, masih belum mengerti dengan apa yg dialaminya

“..dan, apa yg ada didalam genggaman tangan kiriku ini.. Bukankah ini alat penyanggul rambut yg aku temukan disekitar rel kereta api tadi pagi ”

Ingin ia cepat-cepat terjaga dari mimpi buruk itu, tapi rasanya begitu sulit, tubuhnya serasa lumpuh, hanya memendelikkan matanya yg ia bisa, ditatapnya pria dengan kumis melintang dengan luka sayatan dipipinya itu.

” Ada gambaran kegugupan pada pria itu saat menatap mataku.. Dan, ah..dimana ini? Sepertinya tubuhku berada diatas sesuatu yg keras, besi yg memanjang, dan kayu. Oh,ternyata aku berada diatas rel kereta api. Ya ,besi yg memanjang ini adalah rel, dan kayu yg memalang ini adalah bantalannya…” Astrid masih bertanya-tanya dengan apa yg terjadi pada dirinya.

Dirasakannya percikan hangat berbau anyir menerpa wajahnya, sial, ternyata pria itu meludahi wajahku umpatnya, dalam hati. Seraya ditatapnya pria itu dengan penuh kebencian, karna hanya itu yg bisa dilakukannya.

Sepertinya nyali orang itu kecut dengan tatapanku, terbukti dengan wajahnya yg menduduk saat menatap mataku..dan kini dia pergi, meninggalkan aku yg tergolek tak berdaya disini, ditengah rel kereta api..” batinnya.

Dipaksakan dirinya untuk terjaga dari mimpi buruk itu, tetapi begitu sulit.

” Dan..suara apa itu?, seperti suara mesin terdengar sayup-sayup dari kejauhan, dan cahaya itu… Sial itu kereta api ”

Diantara alam bawah sadarnya itu, Astrid melihat kereta api yg semakin mendekati dirinya. Kian lama suara deru mesin itu kian dekat, begitupun cahaya lampu itu semakin menyilaukannya dan…

” PAPAAAAAAAAAAAAA….” teriakan keras memanggil ayahnya itu yg mengakiri mimpi buruknya.

Dilihat disekelilingnya, dirinya masih berada dikamarnya, suara musik lembut masih mengalun dari laptopnya.

Ditarik nafasnya panjang-panjang, untuk menenangkan dirinya dari mimpi buruk yg baru saja dialaminya, seraya dihentikannya suara Joan Baez yg sedang melantunkan Dona-Dona dilaptopnya.

Diteguknya segelas air putih yg baru saja diambilnya dari dispenser. Dan Kembali dia duduk dikursi yg sama.

Tapi, mengapa mimpi itu sepertinya nyata? pikirnya, masih begitu jelas dirasakannya butiran-butiran air hujan yg menusuki kulitnya. dan rasa nyeri dileher itu…? Dirabanya lehernya, memang tidak lagi dirasakannya sakit. Tusuk konde yg berada dalam genggamannya..? Seraya dibukanya tas yg tadi digunakannya. Tusuk konde itu masih ada disana, diperhatikannya dengan seksama. Sepertinya memang benda ini yg ada didalam mimpinya tadi, pikirnya.

Dan tusuk konde itu ditemukannya melekat pada bantalan rel kereta api yg baru saja dibongkar, yg bisa jadi memang telah berpuluh-puluh tahun berada disana terpendam didalam tanah, bukankah tiap tahun tanah dijakarta ini cenderung meninggi, yg disebabkan oleh timbunan-timbunan tanah atau material lain yg memang sengaja dilakukan oleh manusia, untuk menghindari banjir misalnya.

Mimpi seperti itu mungkin saja bisa terjadi bila kita sebelumnya memang terlalu memikirkan akan hal yg kita takutkan, sehingga hal itu akan terbawa dalam mimpi kita. Tetapi ini, memikirkanpun tidak, bahkan dia sama sekali tidak menaruh perhatian apapun pada tusuk konde itu, setelah dimasukannya didalam tasnya tadi pagi, seolah dia telah melupakannya. Lalu mengapa harus diimpikannya dalam tidurnya. Tidur? Apakah memang dia tadi sudah tertidur?. Bahkan diapun masih meragukan kalau tadi dia tertidur. Tapi.. kalau tidak tertidur bagaimana bisa bermimpi? Kembali pikirinnya masih meragukan apakah kejadian yg baru saja dialaminya itu benar-benar hanyalah sebuah mimpi. Lantas kalau bukan mimpi apa?

Kembali disandarkannya kepalanya pada sandaran kursi, seraya diurut-urutnya keningnya sambil memejamkan mata.

Hei, kau gadis bodoh didengarnya sebuah bisikan, suara seorang wanita. Ditolehkannya pandangannya kesekelilingnya, tak ada sesosok mahlukpun kecuali dirinya. Ia yakin suara itu bukanlah mimpi, dan dia masih yakin sepenuhnya kali ini bahwa dia sedang terjaga.

Mengapa kau harus bersembunyi dibalik jaket kombrongmu itu, dan juga topi sialmu.. kini Astrid mulai sadar kalau suara itu berasal justru dari dalam dirinya, tapi bagaimana dia bisa mendengarnya dengan begitu jelas, dan bisikan itu.. itu bukanlah suaranya, suara itu begitu asing baginya. Dan apa urusannya mempermasalahkan pakaian yg ia pakai.

Kau bodoh..pengecut kau lihat dirimu dicermin, cepaaattt.. bisik suara itu lagi, kali ini dengan nada yg tinggi dan seolah sedang menghardiknya.

Entah mengapa segera diturutinya perintah itu, dihadapkan dirinya didepan cermin berukuran besar yg terintregrasi dengan lemari pakaiannya.

Buka seluruh pakaian yg melekat pada tubuhmu

Seperti kerbau dicucuk hidung, Astrid melakukan apa yg dibisikannya itu, hingga tinggal menyisakan bra dan celana dalam saja pada tubuhnya.

Aku bilang semuanya tolol

Segera Astrid melucuti bra dan celana dalamnya, kini dilihatnya didepan cermin dirinya yg tanpa selembar benangpun pada tubuhnya.

Kau perhatikan wajah itu.. wajah yg akan membuat setiap lelaki menahan nafas saat melihatmu tersenyum dan tubuh itu, kulit yg putih bersih, halus mulus tanpa noda, dengan lekuk tubuhnya yg indah, yg akan membuat lelaki berdesir birahinya bila melihatnya.. Mengapa harus kau sembunyikan begitu rupa..

Dia kan..? dia yg menjadi pangkal dari semua ini.. yg telah membuatmu terpuruk begini rupa.. lelaki jahanam itu.. kau harus lenyapkan dia dari muka bumi ini kau harus bunuh dia.. orang yg telah menghancurkan hidupmu.. bunuuuhhh..malam ini juga.. tolol..

A..aku..aku takut jawab Astrid terbata-bata

Kau tak perlu takut.. mulai sekarang, tak ada lagi yg perlu kau takuti.. karena sekarang aku berada didalam dirimu..didalam jiwamu

” Kau panggil jahanam yg telah memperkosamu dulu…habisi dia disini. Sekaraaaang…”

” Baik..baik.. Tapi aku tak menyimpan nomer ponselnya.. Mmmm biar aku cari dibuku telpon diruang utama..” seraya Astrid berlari kecil menuju ruang utama dengan masih telanjang bulat. dibukanya buku telpon, dan didapatnya apa yg dicari, yg dikenalnya adalah tulisan tangan ayahnya MAS HANDOYO no.hp: 085.

Seperti ada sesuatu yg menuntunnya, segera dihubunginya nomor itu

” Om Han… Halo, ini aku om, Astrid… Tolong om han kesini, aku sendirian om, aku takut, sepertinya ada orang yg memperhatikan aku diluar rumah..” jelasnya

” Iya, orang itu cuma sendiri Kalau aku lihat dari pakaiannya sih sepertinya orang gila ”

” Iya, cepat ya om.. Makasih ”

********

” Dimana orang yg kamu maksud tadi as?, tadi aku sempat cek diluar, perasaan gak ada orang disana ” tanya Handoyo, yg malam itu mengenakan jaket kulit, dan dipinggangnya terselip sepucuk revolver dan sebuah borgol.

” Barangkali udah pergi kali om, tadi sih didepan gerbang situ ” jawab Astrid, yg kini telah mengenakan gaun tidur yg tipis, sehingga membayang jelas bentuk tubuhnya. Dan yg membuat pandangan Handoyo tak berkedip adalah bahwa dibalik gaun tipis itu Astrid sudah tak lagi mengenakan under wear, sehingga jelas terlihat buah dadanya yg bulat besar dan pinggulnya yg membukit, dan belahan vagina serta bulu yg menghiasi bagian atasnya tampak jelas terlihat pada selangkangannya.
Senyum nakal tampak terlihat diwajah Handoyo, senyum mesum yg begitu dikenal Astrid, senyum yg sama saat dulu Handoyo ingin menodainya.

Jadi, kamu sekarang sendirian aja as? tanya Handoyo, seraya dihempaskan tubuhnya disofa ruang utama, lalu dinyalakannya sebatang rokok.

Iya nih om.. kalau boleh sih, tolong temenin Astrid malam ini aja om.. plis ya om.. pinta Astrid manja.sambil tangannya menyentuh paha Handoyo.

Tentu sayang, om akan temanin kamu malam ini jawab Handoyo, sial.. dia memanggilku sayang. pikir Astrid.

Kamu pasti masih ingat waktu kamu TK dulu kan? Kamu pasti sudah kangen.. kamu ingin bernostalgia kan? ujar Handoyo, sambil tangannya mengelus-elus bokongnya.
Benci sekali Astrid mendengar perkataan itu. Bangsat.. kangen katamu? Bahkan pada saat itu aku begitu menderita, begitu sakit rasanya kemaluanku yg masih seusia sekecil itu dihujami oleh penis lelaki dewasa sepertimu. Umpat Astrid dalam hati.

Namun dirasakannya ada kekuatan lain pada dirinya, suatu kekuatan yg mampu mengendalikan dirinya, termasuk mengendalikan emosinya untuk tidak langsung melabrak Handoyo dengan perkataannya yg menurutnya begitu melecehkannya, dan kekuatan itu justru mengendalikan birahinya, sehingga pada saat itu dirasakan libidonya naik, dan harus disalurkannya pada lelaki yg paling dibencinya itu. hati kecilnya sebetulnya menolak, baginya Handoyo adalah sosok yg membuatnya jijik, tak sudi lagi dirinya disentuh oleh lelaki pedofil itu, namun jiwanya tak kuasa untuk melawan kendali jiwa lain yg ada pada dirinya itu. yg akhirnya dia pasrah, dan dibiarkannya jiwa yg entah datangnya dari mana itu untuk mengambil alih perannya.

Ah, om tau aja nih, iya dong om Astrid kan kangen sama sentuhan om yg seperti dulu itu.. jawab Astrid, sambil meremas-remas tonjolan diselangkangan Handoyo yg masih terbungkus celana jeans.

Kenapa kamu enggak bilang dari dulu kalau kamu kepingin om juga kepingin banget lho.. apalagi waktu om liat kamu pakai kebaya itu, sampai gemes om dibuatnya balas Handoyo, kini tangannya mulai meraba kearah selangkangan Astrid.

Aku malu dong om.. kan aku cewek, masak aku yg ngajak sih.. gengsi dong..

Ih, dasar kamu.. makanya jangan sok jaim ujar Handoyo, seraya mulai bibirnya menciumi leher Astrid.

Om, dedenya udah bangun tuh, Astrid buka ya.. ujar Astrid, seraya berjongkok dibawah Handoyo, dan ditariknya celana bluejeans sekaligus dengan celana dalamnya, sehingga kini terlihat batang kontol lelaki separuh baya itu yg berdiri tegak mengacung keatas.

Ih, si om, tititnya makin gede aja nih, jadi gemes.. Astrid isep ya om.. ujar Astrid, seraya dimasukannya batang kontol Handoyo kedalam mulutnya.

Zzzzzzzzzzzz.aaaaaaaahhhhhhh enak as, kamu pinter banget sihaaaahhhh racau Handoyo, yg sambil duduk disofa menikmati hisapan mulut kemenakannya itu.

Semakin lama kuluman Astrid semakin liar, suaranya yg menggemlocok membuat Handoyo semakin terangsang, air liur tampak menetes dari sela-sela bibir Astrid sehingga membasahi biji pelir Handoyo.

Beberapa saat kemudian Astrid bangkit, seraya dilepasnya gaun tipis yg dikenakannya. Tubuhnya yg bugil dengan bentuk yg tak kalah dengan artis-artis porno amerika membuat Handoyo melongo seribu bahasa, melihat keponakannya yg berdarah indo itu.

Hay..om, koq bengong sih kesambet ya, hi..hi..hi.. goda Astrid, seraya disibakan memeknya dengan kedua ibu jarinya, sehingga memperlihatkan liang memeknya yg berwarna merah jambu.
Handoyo yg birahinya telah memuncak, dengan bernafsu dipegangnya pinggul Astrid dengan kedua tangannya, seraya mulutnya mencumbui dengan rakus sekerat daging yg ada dihadapannya itu.

Ssrryyuuuffffclop..clop..srryyuffff.. uuhhh.. segeeeerrr.. nyaemm..nyaemm.. srryuufff.. mulut Handoyo dengan rakus menghisap dan menelan cairan-cairan memek Astrid, sesekali dikenyam-kenyamnya bagaikan menikmati makanan yg paling lezat.

Uuuuuuuhhhh iya om, terus ooooomm..aaahhh, doyan amat om, enak ya om..uuuuuhhhh.. racau Astrid, dengan sesekali menggoda pamannya itu.

Uenaaaakkkk guriiiiihhhh kayak kue gemblong, nyem..nyem..nyemmsrryyuff..aahhh gumam Handoyo.

Sejurus kemudian, didorongnya Handoyo sehingga bersandar pada sofa dan harus merelakan makanannya untuk berhenti dicicipinya.

Astrid mulai naik keatas kursi dimana Handoyo duduk sambil bersandar, paham dengan apa yg akan dilakukan keponakannya itu, Handoyo segera melepaskan jaket kulit dan kemejanya dengan maksud agar lebih leluasa.
Batang kontol Handoyo yg mengacung kini didalam genggaman Astrid, dan..bless, amblas masuk seluruhnya didalam lubang memek Astrid.
Sleppslepp..slepp pantat Astrid mulai turun naik mengocok-ngocok batang kontol pamannya itu, sementara Handoyo mengulum buah dada keponakannya itu bagaikan bayi yg sedang menyusui.

Hingga beberapa menit berselang keringat mulai membasahi tubuh Astrid, begitu juga dengan Handoyo. Jepitan memek Astrid yg dirasakan Handoyo masih sempit dan legit membuat pertahanannya mulai ambrol, nafasnya terlihat memburu, seraya didorongnya tubuh Astrid hingga terjerembab dibawah kursi.

Kini kepala Astrid berada dilantai, sementara bokongnya masih berada dipangkuan Handoyo. Handoyo segera berdiri dan menghantamkan batang kontolnya dengan sekuat tenaga. Praktis kini posisi Astrid adalah dengan kepala dibawah dan kaki diatas, sementara kedua pahanya dipegang oleh Handoyo sambil menghujami memeknya.

Aaaaaaaaaaaaaahhhhhh erangan panjang keluar dari mulut pria setengah baya itu, diikuti dengan semburan sperma kedalam rahim keponakannya yg saat usianya tujuh tahun dulu beberapakali diperkosanya itu.

Akhirnya tubuh Handoyo ambruk diatas sofa yg sebelumnya ia duduki tadi, seraya dilepasnya tubuh Astrid, hingga kini Astrid terbaring dilantai.

Waduuuhh om koq udah keluar duluan sih, Astrid nanggung nih om.. gimana nih? rengek Astrid dengan manja.

Aduh, gimana ya abis memek kamu enak banget sih.. legit, om jadi enggak tahan tuh tunggu sebentar ya sayang ujar Handoyo sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran sofa.

*****

Gimana kalo kita mainin game yg lebih hot lagi om? Pasti om suka deh.. tawar Astrid, setelah sekitar sepuluh menit Handoyo beristirahat, dan gairahnyapun terlihat sudah mulai bangkit lagi, setelah keponakannya itu selalu saja menggodanya hingga membuatnya gemas untuk segera mengerjainya lagi.

Permainan apalagi nih ? tanya Handoyo, sambil jari-jari tangannya mulai bergerilya dimemek keponakannya itu.

Pokoknya ayolah.. om ikut aja, nanti juga tau sendiri seraya Astrid bangkit dan mengambil borgol Handoyo yg tergeletak dilantai.

Astrid berjalan kekamarnya sambil menarik batang kontol Handoyo yg mengikutinya, sesekali Handoyo berlari-lari kecil mengimbangi langkah Astrid.

Aduh..pelan-pelan dong jalannya sayang..kontol om ketarik-tarik nih, nanti kalo putus gimana? Enggak bisa nyodok-nyodok memek kamu lagi dong.. protes Handoyo.

Hi..hi..hi.. emang mau Astrid putusin koq, biar om tau rasa hi..hi..hi.. goda Astrid

Ah, kalo yg mutusin cewek cantik kayak kamu sih, om rela aja deh..he..he..he.. balas Handoyo, menanggapi godaan Astrid.

Bener lho om.. awas lho.. goda Astrid

He..he..he.. siapa takuuuuutt.. balas Handoyo

Sesampainya dikamar Astrid, didorongnya tubuh Handoyo hingga terjerembab telentang diatas kasur.

Sekarang tangan om Astrid borgol ya om.. ujar Astrid, dengan genit.

Ah, om udah tau permainan yg model begini sih, sering difilm-film tuh, tapi asik juga sih..lumayan lah.. ujar Handoyo, sambil Astrid mulai memborgol tangan kiri Handoyo ditiang ranjang.

Oh, tapi ini lain om liat aja nanti, tapi tunggu dulu ya om, Astrid mau ambil ikat pinggang dulu, abis om bawa borgolnya cuma satu sih..

Iya, tapi jangan lama-lama ya.. om udah gak sabar nih..

Beres deh om..

Beberapa saat kemudian Astrid telah kembali dengan membawa tiga buah ikat pinggang ditangannya

Taraaaa.ini dia om ujar Astrid, seraya mulai mengikat tangan Handoyo yg satunya, serta kedua kakinyapun ikut diikatnya pula pada tiang ranjang, sehingga kini tubuh Handoyo telentang membentuk huruf X.

Astrid mulai melakukan aksinya, seraya berdiri diatas ranjang mengangkangi Handoyo. Tubuhnya kini mulai meliuk-liuk untuk memberi rangsangan pada Handoyo. Mula-mula seperti gerakan striptise, lama-kelamaan gerakan itu mulai berubah menjadi gerakan seperti menari, sebuah tarian tradisional, tarian ronggeng.

Tarian apa tuh as, koq kayak tari jaipongan gitu sih tapi boleh juga lah, sekali-sekali yg bernuansa tradisional.. ujar Handoyo, yg mulai merasakan sensasi permainan itu.

Kini tubuh Astrid mulai meliuk-liuk dan menggerakan bokongnya kearah wajah Handoyo, sesekali Handoyo mengangkat kepalanya dengan maksud untuk mencium bokong Astrid, namun Astrid sengaja menggoda dengan menjauhkannya pantatnya lagi, sehingga membuat Handoyo penasaran. Akhirnya asrtid membiarkan bokongnya dicumbui oleh Handoyo. Kini Astrid mulai menduduki wajah Handoyo, yg dengan rakus menjilati memeknya, Handoyo tak memperdulikan sisa-sisa air mani yg masih melekat pada memek Astrid, bahkan dengan rakus dikunyahnya dan ditelan.

Mmmmmmclaapp..claapp..sryuff..zhluuuffnyaem..nya emm..aahh sedaaapp.. terdengar suara mulut Handoyo yg berkecipakan mencumbui dengan rakus memek Astrid.

Aaauuuwww enak om, aaahhh.. enggak jijik om ?, yg om makan itukan peju om sendiri hi..hi..hi.. goda Astrid dengan genitnya.

Ah, enggak apa-apalah udah terlanjur lagian kan udah bercampur sama cairan memek kamu, jadi rasanya jadi lebih nikmat dong.. he..he..he.. srrrruuufffffttt.. jawab Handoyo

Beberapa saat kemudian Astrid mulai menggenggam batang kontol Handoyo, seraya dimasukannya kedalam memeknya. Kini Astrid memompakan pantatnya turun naik dengan posisi WOT.

Sekitar lima menit Astrid memompakan pantatnya tiba-tiba tubuhnya mulai mengejang, dari mulutnya terdengar lenguhan, pertanda dirinya telah mencapai orgasme.

Aaaaaaaahhhhh.Astrid keluar omuuuuhhhhhh.. racau Astrid, yg beberapa detik kemudian Astrid menghentikan gerakannya, keringat telah membasahi tubuhnya, setelah mencapai akhir dari pendakian birahinya itu.

Waduuuhh.. om nanggung nih as.. gimana nih rajuk Handoyo, yg merasa kecewa karna Astrid menghentikan gerakannya.

Sabar dulu deh om, Astrid istirahat dulu sebentar ya.. ujar Astrid, seraya mencabut batang kontol yg masih menancap didalam memeknya.

Beberapa menit kemudian , Astrid mulai kembali menggenggam batang kontol Handoyo.

Ya udah om.. Astrid keluarin peju om pake mulut aja ya.. ujar Astrid

Oke deh, mainkan.. jawab Handoyo

Astrid duduk menelungkup sambil mengoral batang kontol Handoyo, sesekali dimainkan lidahnya menjilati batang kontol Handoyo, sebelum akhirnya kembali lagi dikulumnya sambil menaik-turunkan kepalanya.

Zzzzzzzzz.aaaahhhhhh enak sayang, terus keponakanku yg manis..aaahhh racau Handoyo, sambil sesekali memejamkan matanya.

Astrid menghentikan kulumannya sejenak, seraya melepaskan sarung guling didekatnya. Dengan sarung guling itu ditutupnya mulut Handoyo.

Mulut om aku tutup pake ini dulu ya biar kalo orgasme gak berisik hi..hi..hi.. ujar Astrid

Sekarang giliranmu, yg memainkan peranan lakukan apa yg ada didalam benakmu terdengar bisikan dari dalam jiwa Astrid.

Wajah Astrid yg sebelumnya begitu binal dan hangat mengoral penis Handoyo, kini berubah 180 derajat. Seperti telah terjadi serah terima antara jiwa yg asing itu dengan jiwa Astrid yg sebenarnya. Sinar mata penuh kebencian pada lelaki itu kini kembali lagi terpancar dari sorot matanya.

Sejerus kemudian, kresss batang kontol yg berada dimulutnya digigitnya dengan keras, rasa benci dan dendam yg telah mengarat dengan begitu lama, ditumpahkannya malam itu juga. Gigitannya yg sekuat tenaga karna didorong oleh rasa benci yg sedemikian besar membuat batang kontol Handoyo putus, hanya tinggal menyisakan biji pelirnya saja dengan darah yg mengucur dengan begitu deras.

Uuuuuuuhhhhh.uuuuuhhhhhuuuuhhhhh.. hanya jeritan tertahan itu yg terus menerus keluar dari mulut Handoyo yg tertutup oleh sarung guling. Ekspresi wajahnya menggambarkan suatu penderitaan yg teramat sangat, rasa sakit yg tak tertahankan, namun tak ada yg bisa dia lakukan, bahkan untuk berteriakpun tertahan oleh kain yg disumbat dimulutnya. Tetesan air mata mulai keluar dari sela-sela matanya yg sesekali terpejam menahan sakit.

Sakit kan om? Sama sakitnya seperti yg saya rasakan waktu om memperkosa saya dulu, dan rasa sakit itu bukan cuma sekali saya terima, tapi berkali-kali dan om tentu juga masih ingat bagaimana saya menangis sampai-sampai tubuh saya menggigil karna menahan rasa perih yg tak terkirakan.. dan waktu itu tak ada yg dapat saya lakukan, sama seperti om sekarang ini..

Diambilnya potongan kontol Handoyo yg tergeletak diatas kasur, seraya ditunjukannya pada pamannya itu.

Dan benda ini lah yg dulu begitu menyakiti saya, dan seperti yg saya katakan tadi, bahwa saya akan memutuskan batang kontol om.. dan om sendiri juga bilang bahwa om rela kalau kontol om diputusin oleh cewek secantik saya tentu om mengira tadi saya hanya bercanda bukan? Tapi tidak.. saya tidak bercanda seperti yg om kira.. dan ini buktinya.. makan ini.. ujar Astrid, seraya membuka sebentar sumbatan mulut Handoyo, dan dengan cepat dimasukannya potongan kontol itu kedalam mulutnya yg menganga menahan sakit, lalu kembali dipasangnya lagi kain itu untuk menyumbat mulutnya.

Darah yg mengalir dengan begitu deras membasahi sprei itu sehingga berwarna merah, tubuh Handoyo tampak sudah begitu lemas karena terlalu banyak kehilangan darah, raut wajahnya tampak pucat dengan keringat sebesar butiran jagung menetes dikeningnya.

Beberapa menit kemudian setelah merasa puas menyaksikan penderitaan orang yg telah menghancurkan hidupnya itu, Astrid mengambil benda yg pagi tadi ditemukannya distasiun jatinegara, ya..tusuk konde. Seraya diayunkannya tusuk konde yg digenggamnya, dengan ujungnya mengarah tepat kejantung Handoyo.

Rasakan ini.. pedofil Jleepp..jleepp..jleepp tiga tusukan yg dihujamkannya secara beruntun mengakiri riwayat perwira menengah polisi itu, diikuti dengan erangan yg tertahan oleh sumbatan kain pada mulutnya. Hingga akhirnya tubuh itu terdiam kaku, dengan mata yg masih terbuka menatap kelangit-langit kamar.

Astrid menangis meratapi dirinya, menangisi dengan apa yg baru saja dilakukannya, menangis karna harus melakukan perbuatan sadis yg sebetulnya ia benci itu, menangis karna dirinya menjadi korban dari seorang pedofil seperti Handoyo, menangis karena kepribadiannya menjadi tak lazim karena trauma psikis yg dialaminya, yg kerap menjadi bahan olok-olok dan dilecehkan oleh teman-temannya karena dianggap orang aneh.

Hai..gadis bodoh.. apa yg kau tangisi?.. tak ada yg perlu kau tangisi dan sesali.. sekarang dendammu telah terlampiaskan dan mulai sekarang rubah semua yg ada pada dirimu..sikapmu yg bodoh dan pengecut itu.. dan juga pakaian-pakaian bodoh yg tiap hari kamu pakai itu, semua itu harus kau buang jauh-jauh.. kecantikan dan kecerdasanmu bisa mendapatkan apapun yg kau inginkan bisik suara asing itu lagi, seolah suara itu bagaikan sebuah doktrin yg harus diikuti, dengan serta merta Astrid menghentikan tangisannya, dan mulai merenungi apa yg dikatakan bisikan gaib dari dalam jiwanya itu.

Tugasmu kini adalah menyingkirkan bangkai anjing itu sekaraaang..

Seperti ada kekuatan lain dari dirinya, dengan mudahnya Astrid membopong mayat Handoyo yg berat tubuhnya lebih dari 80 kg itu.

Dimasukannya mayat itu kedalam bagasi mobil sedan Handoyo yg terparkir dihalam rumahnya, seraya mobil itu diluncurkannya menuju jembatan diatas jalan tol jagorawi.

Selesai dengan tugasnya menggantung mayat pamannya diatas jembatan itu, Astrid pulang dengan menumpang taksi, dan meninggalkan begitu saja mobil sedan berwarna hitam milik Handoyo, sementara siempunya mobil kini sedang tergantung dengan tali tambang yg menjerat lehernya dijembatan yg sunyi itu, seolah bersiap untuk memberikan pertunjukan gratis kepada pengguna jalan tol pada keesokan paginya.

Author: 

Related Posts