Cerita Sex My Boss!!! – Part 26

Cerita Sex My Boss!!! – Part 26by adminon.Cerita Sex My Boss!!! – Part 26My Boss!!! – Part 26 My Boss Part 12 Sheila dan Rendra duduk berhadapan dalam diam. Setelah adegan ciuman panas itu, Rendra benar benar berharap dapat membuat Sheila kembali ke sisinya. Namun amarah masih melingkupi diri pria itu, di sisi lain, dia juga tak bisa mengabaikan rindu yang menggebu. Melihat Sheila dan mengingat rasa bibir […]

multixnxx-The curvaceous Summer Brielle is back to c-3 multixnxx-The curvaceous Summer Brielle is back to c-4 multixnxx-The curvaceous Summer Brielle is back to c-5My Boss!!! – Part 26

My Boss Part 12

Sheila dan Rendra duduk berhadapan dalam diam. Setelah adegan ciuman panas itu, Rendra benar benar berharap dapat membuat Sheila kembali ke sisinya. Namun amarah masih melingkupi diri pria itu, di sisi lain, dia juga tak bisa mengabaikan rindu yang menggebu. Melihat Sheila dan mengingat rasa bibir wanita itu, membuatnya ingin mengerang dan membawanya ke tempat tidur, mengubur miliknya dalam-dalam ke tempat Sheila.

“Menghindariku! Kabur dari apartement! Surat pengunduran diri! Bisa kau jelaskan apa maksud semua ini?” Rendra akhirnya membiarkan mulutnya berbicara untuk mengusir rasa penasaran yang bersarang di hatinya.

Sheila tertunduk gelisah mendengarnya. Dia sendiri juga tak yakin dengan alasan yang akan dia katakan kepada bosnya. Mana mungkin dia bilang kalau beberapa saat lalu rasa cemburu menguasainya dan kenyataan tak bisa memiliki membuat dia memilih pergi? Sheila tak mungkin memelihara hatinya untuk lelaki seperti bosnya.

“Sekretaris,” panggilan itu membuat dia mengalihkan pikirannya dan menatap sang bos.

“Uhm, aku, aku hanya tak ingin merepotkanmu bos. Uhm la-lagipula sekarang aku sudah dapat tempat tinggal baru jadi..”

“Lalu masalah pengunduran diri?” Rendra memotong ucapan Sheila dengan cepat. Ia benar-benar tak suka dengan jawaban sekretaris cantiknya tersebut.

Tak mau merepotkan? Justru karena wanita itu pergi semuanya akan lebih merepotkan. Tidak ada lagi wanita yang akan marah dengan manisnya saat dia goda, tidak ada lagi wanita yang akan membuat sesuatu di selangkangannya menggeliat setiap saat meminta dipuaskan hanya karena mengingat Sheila. Sheila melihat kuku tangannya yang dicat merah muda, berusaha menjawab pertanyaan bosnya yang menuntut.

“Aku hanya ingin suasana baru. Hm yah,bekerja denganmu menyenangkan, aku hanya.. Yahh..” Sheila benar benar tak siap dengan tatapan penuh intimidasi dari Rendra. Jawaban penuh keraguan itupun terlontar begitu saja.

“Kau tahu kontrakmu belum berakhir sekretaris. Tentunya kau harus memikirkan berapa banyak denda yang akan kau bayar kepada perusahaan,” Rendra berusaha mengintimidasi Sheila dengan nada mengancam.

“A-aku akan membayarnya. Akan kucicil..”

Rahang Rendra mengeras mendengar jawaban Sheila, “Apa? Mencicil?? Jangan main-main sekretaris! Kau pikir kantor ini milik nenekmu?”

Sheila mengerjap melihat mata Rendra yang berkilat penuh amarah. Baru kali ini Sheila mendapatkan Rendra membentaknya begitu keras. Sekarang Rendra mendekatinya, membuat Sheila menundukkan wajahnya, hingga tangan kanan Rendra menyentuh dagunya dan membuat Sheila mendongak.

“Kau tidak akan pernah keluar dari perusahaan ini tanpa seizinku, mengerti?” Ucap Rendra dengan nada suara rendah.

Oh tidak! Disaat seperti ini Sheila malah bergairah untuk mengecup bibir Rendra dan melakukan ciuman panas sekali lagi. Hentikan pikiran itu Sheila!

“Mengerti?” Satu kali penegasan yang membuat Sheila mengangguk. Rendra tersenyum penuh kemenangan. Punggung tangannya membelai pipi Sheila, menelusuri kemulusannya, Sheila menahan nafas melihat bibir yang sedikit terbuka itu. Dia berharap satu ciuman saja darinya.

Rendra mendekatkan bibirnya hingga tersisa jarak satu senti diantara bibir mereka, sedikit lagi saja maka mereka akan menyatu, hingga sebuah suara terbukanya pintu menginterupsi kegiatan mereka. Rendra menggeram kesal lalu menghentikan aksinya.

“Sayang,” suara yang begitu familiar terdengar di telinga Rendra dan membuatnya berdecak. Seorang wanita usia 50 tahun muncul dari balik pintu. Suara khasnya memanggil Rendra dengan penuh semangat dan kasih sayang.

“Mom!” sahut Rendra malas, dia tak menyangka ibunya akan datang ke kantor.

“David, bisa bisanya kau pulang tanpa bertemu Mommy mu. Kau tahu sudah berapa lama kau tak mengunjungi Mommy dan Daddy mu!” ucap wanita itu dalam satu tarikan nafas, membuat Rendra semakin sebal saja.

“Mom, aku bukan anak kecil lagi!”

Keriput di wajah wanita itu tak mengurangi kecantikan alami yang memancar di wajahnya. Ia mengomeli Rendra panjang lebar khas orang tua terhadap anaknya.

“Tega sekali kau mengabaikan jemputan yang Mommy kirimkan dan malah pergi sesuka hatimu. Mom…” sesaat ucapannya terhenti melihat wanita di samping Rendra yang menunduk sedari tadi.

“Siapa wanita ini sayang? Berhentilah bermain main dengan perasaan wanita sudah waktunya kau…”

“Mom. Diamlah. Biar kujelaskan,” kata-kata Rendra membuatnya terdiam.

Rendra pun menarik pinggang Sheila dan mengecup pelipisnya, “Mom, perkenalkan ini calon istriku.”

Terkejut dengan situasi itu, Sheila menatap Rendra tajam kemudian berusaha melepaskan tangan Rendra yang melingkar di pinggangnya, tapi bukannya terlepas tangan itu malah semakin erat membuat tubuh bagian samping. Tubuh mereka pun semakin merapat erat.

“Calon istri? Oh sayang Mommy senang akhirnya kau berhenti bermain dengan wanita wanita liar itu. Dan siapa ini? Siapa namamu nak?” katanya sambil memeluk Sheila dan menangkup wajahnya dengan sorot mata penuh kelembutan.

Sejenak dia terenyuh, sudah lama sekali Sheila tak mendapati sorot mata seorang ibu yang menatapnya dengan penuh ketulusan.Namun dia segera menguasai dirinya, dia harus menjelaskan kebohongan Rendra. Dan akhirnya Sheila mendapati Rendra melepaskannya.

“Sheila tante, dan sebenarnya aku bukan..”

“Dia sekretarisku Mom,” sahut Rendra cepat, menghalangi Sheila untuk mengucapkan yang sebenarnya.

“Hm baiklah. David, nanti malam.. Ah tidak besok malam saja, kau bisa mengunjungi kami di rumah? Mom ingin makan malam bersama.calon istrimu..”

“Tante aku..”

“Mom…”

“Besok malam sayang..sebenarnya Mom ingin malam ini, tapi ada acara makan malam dengan teman-teman, oke sayang, Mom pergi dulu. Tante tunggu besok ya Nak Sheila,” mommy Rendra berkata seraya melambaikan tangan dan melangkah keluar kantor.

Tanpa menunggu kalimat berikutnya Rendra dan Sheila dipeluk bergantian oleh Mommynya, kemudian pergi begitu saja. Tanpa membiarkan Sheila menjelaskan yang sebenarnya.

Rendra sendiri tak begitu peduli akan respon Sheila. Karena dibalik itu dia sangat serius untuk menjadikan Sheila calon istrinya. Pada saatnya nanti, Dia akan menjadi milik Rendra seutuhnya, pikir Rendra sambil tersenyum atas rencananya.

Namun Rendra mendapai ada yang salah dengan diamnya Sheila. Ia pun menatap gadis pujannya dan melihat Sheila yang hampir seperti ingin mengeluarkan matanya.

“Apa?” tanya Rendra tak merasa bersalah.

“Kau! Memangnya siapa yang ingin jadi calon istrimu??” Sheila menatap tajam mata Rendra, menantangnya untuk menjelaskan.

“Aku serius,” dahi Rendra berkerut tak terima dengan ucapan Sheila.

“Aku juga serius bos. Sekarang kuminta kau bicara pada Mommymu itu yang sebenarnya! Bahwa aku bukan calon istrimu!” tegasnya lalu melangkahkan kaki menuju pintu dan Rendra menahan lengannya.

“Sepertinya itu ide yang buruk. Hm, bagaimana kalau kita segera atur rencana pernikahan kita? 3 bulan lagi? Ah tidak, itu terlalu lama. Bagaimana kalau bukan depan?”

Demi Tuhan. Bahkan Rendra mengajak menikah seperti ajakan main-main. Membuat Sheila mendadak sakit kepala, Tapi Rendra malah tersenyum senang.

“Berhenti main-main bos,” Sheila tak mengerti apa yang dipikirkan bosnya yang pemaksa itu.

“Sudah kubilang aku serius sekretaris,”

“Bos! Aku tak mau menikah !”

“Kau harus mau!”

“Demi Tuhan, bos. Aku tidak mau menikah dengan lelaki sepertimu yang berganti wanita seperti berganti celana dalam!” bentak Sheila sambil menghentakan lengannya, membuat pegangan Rendra terlepas.

Hening. Rendra tak mengerti darimana Sheila dapat pemikiran seperti itu. Padahal dia tak pernah lagi berhubungan dengan wanita sejak ada Sheila. Bahkan sudah lama sekali sejak ia tidur dengan wanita, dan wanita itu adalah Sheila.

“Asal kau tahu, Aku mengganti celana dalamku 2 kali sehari. Dan aku tak pernah bersama perempuan sejak bertemu denganmu,”

“Omong kosong. Lalu wanita itu siapa? Kau bahkan tak ingat aku lagi sejak bertemu dia?” tanpa sadar Sheila mengucapkan pertanyaan yang selama ini mengganggu dirinya dengan lantang.

Rendra menatap Sheila dengan raut kebingungan. Sheila pun menunduk malu, ia takut bosnya mengira dia cemburu. Dan sialnya dia memang cemburu.

“Wanita yang mana?” tanya Rendra tak mau menjawab.

“Ah sudahlah aku baru ingat kedatanganku kemari, aku sudah mengajukan pengunduran diri jadi..” Sheila berusaha mengalihkan topik pembicaraan, ia merasa tak nyaman telah mengungkapkan kecemburuannya.

“Tunggu! Jangan-jangan wanita yang kau maksud adalah wanita yang datang ke kantor sebelum aku berangkat ke Palembang?” katanya memastikan. Sedetik kemudian Rendra tersenyum. Ya. Sekarang dia mengerti. Sheila cemburu. Dan Rendra menyukainya.

“Kau! Apa yang kau tertawakan??!” ucap Sheila saat melihat Rendra yang terkekeh.

“Ehem, asal kau tahu, wanita itu berusaha menggodaku dengan tubuhnya. Tapi aku sama sekali tak peduli, waktu itu aku mengatakan padanya agar jangan menggangguku lagi,” Rendra menjelaskan sambil tersenyum, membuat Sheila tak nyaman.

“A-apa?”

Semua penjelasan itu seolah menghancurkan benteng pertahanan yang dibangun oleh Sheila dengan kokoh. Rendra bahkan menjelaskan semuanya, keberangkatan ke Palembangnya yang harus dipercepat karena desakan Kantor Cabang, yang malah tak diperhatikan Sheila karena kecemburuannya.

“A-aku harus pulang dan memikirkan semua ini,” Sheila segera melangkah keluar kantor begitu mendengar penjelasan Rendra. Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa di depan bosnya setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya.

Sementara Rendra tersenyum menatap punggung Sheila yang berlari keluar dari kantornya. Rendra bahkan senang dengan kecemburuan Sheila, yang walaupun wanita itu tak mengakuinya, tapi cukup ampuh saat Rendra menggunakan itu untuk menggodanya. Kini dia hanya tinggal meyakinkan Sheila tentang pernikahan itu.

Sungguh dia serius, ya dia akui kalau selama ini dia tak pernah berhubungan serius dengan wanita sehingga dia tak tahu cara yang tepat untuk mengungkapkan perasaannya. Kalimat yang meluncur di mulutnya kepada Mommy-nya pun tak dia rencanakan sebelumnya, walaupun hal itu tak dapat diterima Sheila, dia akan berusaha lebih keras lagi. Tinggal tunggu waktu saja.

“Amy, berikan aku alamat Sheila sekarang juga!” teriak Rendra dari balik pintu kantornya. Ia berencana mendatangi Sheila sekarang juga dan membujuknya untuk kembali tinggal bersamanya. Setelah mendapatkan alamat Sheila, Rendra bergegas meninggalkan kantor dan menuju apartemen Sheila.

“Aku akan mendapatkanmu kembali, sayangku,” ucap Rendra pelan begitu ia tiba di lobi depan apartemen Sheila.

Tanpa menunggu lagi, dia bergegas masuk ke dalam gedung dan mencari wanitanya. Senyum terkembang di wajahnya hanya karena mengingat wajah gadis itu, dengan rambut selembut sutra yang membingkai wajahnya, mata bulat yang selalu menantangnya, dan bibir yang mengundang untuk dilumat, dia selalu membuat Rendra tak bosan hanya dengan menatapnya. Rendra pun bergerak tak sabar di dalam lift yang membawanya ke lantai tempat tinggal Sheila.

Denting suara lift menandakan pintu lift yang otomatis terbuka.

Sebuah pemandangan yang di luar dugaan Rendra terjadi tepat di depan matanya. Ia melihat sahabat dan rekan bisnisnya, Ronald, sedang memeluk wanitanya begitu mesra. Dan itu belum cukup parah, detik berikutnya ia melihat bibir mungil Sheila dilumat oleh Ronald.

Tanpa berpikir lagi dia menghampiri adegan mesra dua manusia itu, memisahkan mereka dan mendaratkan pukulan di wajah Ronald hingga tersungkur.

“Itu pelajaran untukmu karena berani menyentuh milikku,” ucap Rendra puas.

“Rendra kau..” sebelum Sheila menyelesaikan ucapannya, Ronald membalas Rendra dengan pukulan balasan.

“1-1” kata Ronald. Sheila terkejut melihat semua itu. Satu pukulan lagi dari Rendra hingga akhirnya perkelahian tak dapat terelakkan.

Teriakan Sheila yang menyuruh mereka berhenti, tak dihiraukan. Ronald malah menjepit kepala Rendra dengan lengannya.

“Brengsek. Kau ini kenapa bodoh?” teriak Ronald.

Rendra berhasil melepaskan diri dari Ronald, lalu mereka kembali bergulat. Bahkan wanita yang jadi sumber perkelahian itu sudah hilang dari hadapan mereka tanpa disadari keduanya. Tak lama kemudian dua petugas keamanan gedung itu datang. Menghentikan keduanya.

**

Sementara itu, Sheila hanya bisa menghela nafas. Tidak menyangka bosnya yang dingin bisa sebrutal itu. Padahal dia hanya berpelukan dan.. yah.. mana dia tahu, kalau Ronald akan menciumnya. Lagipula itu hanya ucapan selamat Ronald di hari ulang tahunnya. Rendra benar-benar gila. Dia duduk di taman kota dengan McFlurry di tangannya. Setidaknya sesuatu yang dingin akan sedikit menenangkannya saat ini. Hembusan angin membelai wajahnya, suasana ini lebih baik daripada menonton dua pejantan yang berkelahi.

Dari jauh, seorang pria menatapnya sambil tersenyum penuh rencana. Setelah berkali-kali dia gagal. Mungkin malam ini adalah saat yang tepat. Persetan dengan rayuan, wanita itu memang harus selalu dipaksa agar bisa menuruti keinginannya. Sudah lama sekali dia ingin mencicipi tubuh indah itu dalam versi sekarang.

Sheila menopangkan kaki kanannya di atas kaki kiri, membuat rok mininya terangkat lebih tinggi memperlihatkan halus pahanya hingga lelaki itu menelan ludah.

Brengsek!
Sheila selalu bisa menaikkan nafsunya. Dia sudah tidak tahan lagi. Tanpa menunggu, lelaki itu mendekati Sheila, malam ini dia tidak boleh gagal.

***

Author: 

Related Posts