Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 47

Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 47by adminon.Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 47My HEROINE [by Arczre] – Part 47 BAB V: DESTROYER DESCENDANT Sejak kecil Putra sudah menjadi seorang anak yang cerdas. Pertumbuhannya selalu dipantau oleh kedua orang tuanya. Dan ia paling manja kepada ibunya. Rangga tentu saja sangat bahagia dengan anak semata wayangnya ini. Dia juga memanjakan Putra dengan banyak hal, seperti mainan, liburan dan lain-lain. […]

multixnxx-Black hair, On top, Asian, Gonzo, Pornstar-15 multixnxx-Black hair, Short hair, Asian, Bikini, Dog-0 multixnxx-Black hair, Short hair, Asian, Bikini, Dog-1My HEROINE [by Arczre] – Part 47

BAB V: DESTROYER DESCENDANT

Sejak kecil Putra sudah menjadi seorang anak yang cerdas. Pertumbuhannya selalu dipantau oleh kedua orang tuanya. Dan ia paling manja kepada ibunya. Rangga tentu saja sangat bahagia dengan anak semata wayangnya ini. Dia juga memanjakan Putra dengan banyak hal, seperti mainan, liburan dan lain-lain. Masa kecil putra dari semenjak ia lahir sampai balita penuh dengan keceriaan. Laras dan Rangga telah mendidik Putra dengan kebahagiaan. Namun ketika Putra mulai masuk SD di usianya yang menginjak 7 tahun, tampaklah keanehan di dalam dirinya.

Laras satu-satunya yang mengetahui tentang keadaan Putra. Dia tahu darah Destroyer sudah memilih Putra. Terlebih ketika dalam usia yang masih kecil Rangga bisa berbicara dengan banyak hal, bermain dengan banyak hal.

“Aku mohon, jangan sampai suamiku tahu. Kalian bisa menjaga rahasia ini kan?” kata Laras kepada seluruh elemen yang sedang bermain dengan anaknya.

Putra menjadi anak yang sangat cerdas. Bahkan karena kecerdasannya ini membuat semua guru merasa takjub kepadanya. Mungkin kelewat cerdas sampai-sampai ia membuat sendiri mainan remote control di rumahnya, seolah-olah seluruh elemen benar-benar membantunya merangkai semua yang ia inginkan. Lebih dari itu, ketika ia tak suka terhadap suatu benda ia hanya pegang benda itu dan benda itu langsung hancur seketika. Sejak kecil Laras mengajarkan kepada Putra agar menyembunyikan kekuatannya di hadapan manusia, karena berbahaya bagi mereka yang tidak mengerti.

Berbeda dengan Rangga di tempat kerja. Ia sepertinya mendapati sebuah dana siluman yang tidak wajar. Rangga yang saat itu melihat pembukuan project di salah satu BUMN tempat ia bekerja mendapati gratifikasi. Mungkin karena Rangga terlalu jujur, ia akhirnya melaporkan hasil temuannya itu ke KPK. Dengan cepat KPK segera bertindak dan memeriksa semua berkas yang ada di kantor BUMN tempat Rangga bekerja. Hasilnya kepala direksi BUMN itu pun ditetapkan sebagai tersangka.

Semula tak ada yang tahu tentang permasalahan itu, semula juga tak ada yang tahu bahwa Rangga yang melaporkan pimpinannya sendiri ke KPK. Tapi ternyata uang telah berbicara. Dengan sedikit menyogok beberapa orang akhirnya anak buah mantan kepala direksi Burhan mengetahui siapa yang melaporkan Burhan ke KPK. Burhan pun mempunyai rencana licik, apalagi ketika ia tahu bahwa Rangga punya istri Laras, seorang blesteran. Siapa yang tidak tergoda dengan tubuh Laras yang aduhai. Dengan liciknya ia menyuruh anak buahnya untuk membuat dokumen palsu, kemudian juga menyogok jaksa dan hakim. Hingga akhirnya Burhan mengaku bahwa uang itu juga dinikmati oleh Rangga.

Rangga tentu saja terkejut ketika di suatu sore tiba-tiba dia didatangi oleh petugas KPK. Laras yang seakan tak percaya terhadap apa yang terjadi berusaha menenangkan anaknya yang terus bertanya, “Papa mau kemana? Papa mau kemana?”

Persidangan yang alot. Terlebih Burhan dipecat dari statusnya sebagai PNS. Butuh waktu dua tahun lamanya hingga akhirnya pengadilan memutuskan Rangga bersalah. Rangga terus membela dirinya tak bersalah, tapi bukti-bukti di pengadilan yang dipalsukan itu terus memberatkannya. Laras dan Putra tentu saja bersedih.

Di sekolah Putra terus diejek sebagai anak seorang koruptor, dia pun depresi. Dijauhi teman-temannya. Ia terus memendam kekuatannya walaupun ia marah. Hanya ketika ia sampai di rumah ia menghancurkan segala-galanya. Meluapkan segala emosi yang ada di dalam dadanya. Laras harus bertahan dialah yang sekarang menjadi kepala keluarga, membiayai Putra sekolah bahkan karena keputusan pengadilan yang memberatkan Rangga, membuat Rangga tak bisa keluar dengan cepat. Rangga meringkuk di sel tahanan KPK. Keputusan pengadilan yang menghukum dia selama 10 tahun dengan denda sebesar 1 Milyar sangat berat bagi dirinya. Hingga kemudian ia tak tahu kalau Burhan telah bebas. Tentu saja, yang ia punyai adalah uang. Dengan uang dia telah membeli hakim untuk memberikan grasi kepadanya. Burhan pun menemui Rangga di tahanan.

“Rangga apa kabar?” sapa Burhan.

“Kamu?”

“Ya, aku. Terkejut melihatku telah bebas?”

“Jadi, kamu yang telah memfitnah aku selama ini?”

“Bukan fitnah karena kamu telah menikmati hasilnya juga bukan?”

“Aku tak pernah menikmatinya barang sepeser pun.”

“Sudahlah, kamu nikmati saja hotel prodeo ini, sementara itu karena kamu telah berlaku buruk kepadaku, aku akan pergi ke rumahmu dan menikmati istrimu. Kudengar dia ada blesteran yah? Hahahahahah”

“Brengsek! Anjing! Keluarkan aku! Brengsek! Awas kalau sampai kau menyentuh dia kubunuh kau! Kubunuh kau!”

“Coba saja! Ini sebagai balasan terhadap apa yang kamu lakukan. Siapa tahu nanti ketika kamu keluar, istrimu sudah punya anak lagi dari diriku. Hahahahahaha”

Rangga terus berteriak-teriak ketika Burhan meninggalkan selnya. Dia terus menggedor-gedor pintu tanpa ada yang mendengarkannya. Rangga terus histeris, ia merasa tak berdaya ketika di dalam sel tahanan itu. Ia benar-benar bersumpah akan membunuh Burhan kalau sampai Burhan menyakiti Laras dan Putra.

Inilah tragedi yang tak akan terlupakan oleh Putra. Putra saat itu baru saja berusia 14 tahun. Ia telah mengenyam bangku SMP ketika itu. Rumah mereka masih sama, Laras bekerja di sebuah tempat laundry. Penghasilannya cukup lumayan terlebih ia juga bekerja di dua tempat. Pagi sampai siang ia mengurusi laundry, siang sampai malam ia bekerja di sebuah SPBU. Hanya malam hari saja ia bisa bertemu dengan Putra. Malam itu tak ada perasaan ataupun firasat yang dirasakan oleh Laras. Karena ia telah lama hidup seperti ini bertahun-tahun. Malam itu ia ingin memberikan kejutan kepada Putra dengan membawakan nasi goreng kesukaan Putra. Tak ada yang aneh bahkan ketika ia bertemu dengan Putra di rumah.

“Lagi belajar ya?” tanya Laras kepada anak semata wayangnya itu.

“Iya ma,” jawab Putra.

“Nih, ibu bawakan nasi goreng,” kata Laras sambil menyerahkan nasi goreng yang dibelinya.

“Makasih ya ma,” Putra lalu mulai membuka bungkusan itu. Saat itulah tiba-tiba pintu terbuka. Belum sempat Putra memasukkan nasi goreng ke mulutnya tiba-tiba beberapa orang berpakaian hitam menodongkan senjata ke arah Laras dan Putra.

“Jangan bergerak!” seru salah seorang dari mereka. Mereka semua memakai topeng.

“Siapa?” Putra saat itu hampir saja marah dan akan mengeluarkan kekuatannya, kalau saja ia tak menatap mata ibunya mungkin ia akan langsung mengeluarkan kekuatannya.

“Putra, tahan! Jangan lakukan apapun!” perintah Laras. “Apa yang sebenarnya kalian inginkan?”

Dari pintu muncullah Burhan.

“Kamu?!” Laras terkejut.

“Terkejut? Harusnya kamu terkejut. Ikat anaknya!” perintah Burhan.

Segera saja orang-orang yang masuk tadi langsung mengikat Putra. Putra tak melawan, ia melihat ibunya menatap dirinya agar menahan diri. Tangan dan kaki Putra terikat kemudian tubuhnya didudukkan di atas kursi.

“Brengsek! Lepaskan aku!” kata Putra.

“Putra diamlah! Mama mohon diam!” kata Laras.

Putra yang sangat patuh kepada ibunya itu pun diam.

“Apa maumu?” tanya Laras.

“Aku ingin memberikan suamimu hadiah, karena dia berani sekali melaporkanku kepada KPK. Aku akan buat hidupnya menderita hingga ia tak akan mampu lagi hidup,” kata Burhan.

“Maksudmu?”

“Tubuhmu itu seksi juga, sejak dulu aku ingin sekali menikmatinya,” kata Burhan.

“Brengsek! Pergi kamu atau aku akan teriak!” ancam Laras.

“Teriak? Kepada siapa kamu akan berteriak?” tanya Burhan.

“Aku akan membunuhmu kalau kamu berani menyakitiku,” kata Laras dengan wajah merah padam.

“Kamu mau membunuhku? Wah, itu berarti klop sekali, keluarga kriminal, suaminya seorang koruptor, istrinya seorang pembunuh. Entah apa yang akan terjadi nanti dengan anakmu di masa depan,” kata Burhan sambil tersenyum licik.

Laras pun terhenyak. Ia tahu Putra tak boleh hidup seperti ini. Ia melihat nyawa putra terancam, bisa saja ia menyuruh Putra untuk melepaskan kekuatan Destroyernya selama ini, tapi bukan itu yang ia inginkan. Ia tak ingin Putra menjadi seorang pembunuh seperti kakeknya. Ia harus mendidik Putra dengan cara berbeda. Putra lebih baik daripada kakeknya itulah yang ia pikirkan saat ini.

“Bagaimana kalau kita bersenang-senang malam ini? Kamu tak usahlah melawan, nikmati saja,” kata Burhan. Ia sudah melepaskan kemejanya.

“Kalian berjanji akan melepaskan Putra dan suamiku?” tanya Laras.

“Hmm…ide bagus, aku akan lakukan itu asalkan kamu menjadi milik kami malam ini, Hahahahaha,” tawa Burhan dengan wajahnya yang jelek.

“Baiklah, perkosa aku! Tapi bebaskan mereka dan ingat kalian sudah janji, kalau kalian mengingkari janji aku akan jadi kriminal yang lebih mengerikan dari apaun di dunia ini”

“Baiklah, deal. Kalian dengar bukan? Hari ini target tidak melawan, kalian santai saja!” kata Burhan kepada beberapa anak buahnya yang ada di rumah itu sekarang. “Kalau begitu tunggu apalagi? Buka bajumu! Bawa anak itu pergi!”

“Tidak! Biarkan ia melihat!” kata Laras.

Burhan tampak kaget.

“Biarkan ia melihat wajah kalian, biarkan ia melihat ibunya disiksa, ia harus melihat semuanya!” kata Laras.

“Mama…,” gumam Putra. Darahnya saat itu sudah mendidih. Tapi ia menahan diri, terus menahan diri.

“Ingat Putra, ingat wajah mereka! Kamu tak boleh jadi kriminal seperti mereka, kamu harus jadi anak yang baik. Balaskan dendam orang tuamu dengan cara yang baik, bukan dengan cara kriminal. Kamu harus melihat bagaimana mereka menyiksa mama, kamu harus melihat agar kamu tidak segan-segan menyakiti mereka nantinya!”

“Wanita gila!” kata Burhan. Dia dengan kasar merobek baju Laras. Lalu Laras diombang-ambingkan, ia mencopot baju laras dengan kasar. Menamparnya, hingga kemudian dia dengan kasar mengagahi Laras.

Seluruh elemen saat itu gemetar melihat Laras dianiaya. Tapi Laras memilih untuk diam. Putra harus melihatnya, ia harus mengumpulkan kemarahan dalam diri Putra. Putra melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana ibu kandungnya diperkosa oleh tujuh lelaki malam itu. Jeritan ibunya, tangisan ibunya semuanya dia lihat, dia dengar. Ibunya terus menatap dirinya agar tidak mengeluarkan kekuatan Destroyernya.

Dalam keadaan terikat akhirnya Putra pun menyadari apa yang diinginkan oleh ibunya. Putra tak boleh seperti kakeknya. Kakeknya seorang Destroyer yang kejam. Seorang psikopat yang haus darah. Ia harus membuktikan kepada dunia bahwa dia tidak seperti kakeknya, ia orang yang berbeda. Akhirnya Putra pun menarik nafas dalam-dalam. Matanya menatap tajam tanpa perasaan ke arah setiap lelaki yang memperkosa ibunya. Ia ingat satu persatu wajah mereka, terutama Burhan.

Setelah ketujuh orang itu memperkosa Laras sampai pagi, akhirnya Laras yang tubuhnya belepotan sperma pun ditinggal pergi begitu saja. Mulai dari dada, kemaluannya, duburnya, mulut dan wajahnya penuh dengan cairan ejakulasi dari tujuh orang yang memperkosanya. Laras tak sadarkan diri hingga beberapa jam. Putra masih duduk menanti ibunya siuman.

Laras pun siuman, ia mengambil pakaian seadanya kemudian ia pakai.

“Putra, kenapa kamu tak melepaskan diri dari ikatan?” tanya Laras.

“Karena mama melarangku menggunakan kekuatanku,” jawab Putra.

“Sekarang mama tidak melarangmu!” kata Laras.

Akhirnya Putra mengendalikan elemen besi. Sebuah besi terbang dan langsung memotong tali yang mengikatnya. Putra pun terlepas kemudian segera menolong Laras.

“Mama, mama harus dibawa ke rumah sakit!” kata Putra.

“Apa yang akan terjadi nanti kalau di rumah sakit? Kamu ingin mama terekspos oleh media massa? Tidak Putra, mama tidak menginginkan itu. Papamu akan tambah sedih nanti. Kamu ingat mereka semua?”

“Iya, Putra ingat.”

“Ingatlah baik-baik mereka, belajarlah dengan rajin hingga engkau jadi orang yang paling berguna di negeri ini. Setelah engkau sampai di puncak, balaskan dendam ibumu ini,” ujar Laras.

Dengan petunjuk ibunya, Putra menjadi orang yang benar-benar mengerikan. Dia menjadi orang dengan perasaan yang dingin, misterius namun otaknya sangat cerdas.

Rangga shock ketika Burhan kembali mengunjunginya dengan rekaman perkosaan yang dia lakukan bersama teman-temannya. Rangga pun tak sanggup lagi melihat itu. Dia depresi hingga akhirnya menggantung dirinya sendiri di sel tahanan padahal persidangannya masih melakukan banding.

Kematian Rangga bukan saja mengejutkan Laras dan Putra, tetapi juga keluarga besar Nagarawan. Burhan tak pernah tahu bahwa ternyata Rangga adalah anak dari orang yang terhormat Julius Nagarawan. Begitu tahu siapa keluarga Rangga ia pun pura-pura tak tahu dan tak mengerti, ia segera menghilang begitu saja. Akhirnya Laras dan Putra diterima dengan baik oleh keluarga Nagarawan walaupun dengan sangat terlambat harus kehilangan Rangga.

******* ~ o ~ *******

“Putra, kamu berbeda dengan kakekmu. Kamu akan ibu didik menjadi anak yang berguna bagi orang lain. Kamu harus jadi orang baik. Mereka berbuat jahat kepada ibu dan ayahmu dengan cara kriminal, tapi balas mereka dengan cara yang baik. Mereka mempermainkan hukum, tapi kamu harus menjadi hukum itu sendiri. Ingatlah mereka, kamu harus menjadi orang nomor satu!” kata Laras.

“Jadi presiden?” tanya Putra.

“Kalau perlu, bahkan kalau perlu jadilah pemimpin dunia”

“Tapi bagaimana caranya?”

“Kamu adalah seorang Destroyer. Kekuatanmu masih belum bisa kamu kendalikan. Lacaklah orang dengan nama keluarga mereka Van Bosch. Itu adalah keluarga kakekmu, kamu pasti akan diajari oleh dia cara mengendalikan kekuatanmu.”

“Ibu, kalau misalnya aku sudah membalaskan dendam apa yang harus aku lakukan setelah itu?”

Laras tersenyum kepada Putra sambil mengusap rambut anaknya, “Ambillah semuanya yang kamu inginkan, ibu ingin melihatmu berada di atas. Hidup ibu selalu di dalam kesusahan, kehormatan ibu sudah dicabik-cabik sejak lama. Ibu ingin kamu menjadi orang yang tidak dipandang rendah oleh siapapun, orang yang paling dihormati dan ditakuti sehingga tidak ada yang menyuruhmu untuk berlutut. Semua orang akan bertekuk lutut di hadapanmu. Ibu ingin kamu menguasai semuanya, mengambil semuanya tanpa sisa. Balaskan dendam kedua orang tuamu.”

“Ibu tahu? Aku sejak kecil punya sahabat, namanya Park Sun Il. Dia orang Korea. Kami punya cita-cita sama.”

“Apa itu?”

“Kami ingin menguasai dunia”

“Oh ya?”

“Lihat, aku telah menulis rencananya!” Putra menunjukkan sebuah buku catatan yang agak usang.

“Bukankah ini buku mainanmu?”

“Iya, ini buku yang dulu dibelikan oleh ibu”

Ketika buku itu dibuka tampaklah tulisan-tulisan dan gambaran dari Putra.

“Menguasai dunia. Pertama rekrut orang-orang cerdas dan psikopat. Kedua, dapatkan uang sebanyak-banyaknya hingga mendapatkan dana tak terbatas. Ketiga bikin kekacauan di mana-mana. Keempat, buat virus dan sebarkan wabah di mana-mana. Kelima, rampas pengetahuan dunia, ambil seluruh memory para pemimpin dunia. Keenam, buat dinasti mesin yang tak terkalahkan. Ketujuh, bangkitkan Titan. Kedelapan, rebut dunia dalam waktu sembilan hari. Kesembilan, ambil apa saja yang ada di hadapanmu.”

Laras tak menyangka anaknya sudah mempunyai pemikiran seperti ini ketika masih kecil.

“Kamu yakin bisa melakukannya?” tanya Laras.

“Aku adalah keturunan Destroyer, aku pasti bisa melakukannya,” jawab Putra.

*****~o~****

Kedekatan Laras dan Putra bukan saja kedekatan antara ibu dan anak semata, melainkan lebih daripada itu. Untuk menghapus ingatan buruknya diperkosa oleh para lelaki itu terlebih lagi rasa kebutuhan biologisnya yang tak bisa dibendung Laras punya cara yang sangat konyol, tapi cara itu masuk akal baginya. Ia sangat mencintai Rangga, ia juga sangat mencintai Putra. Bahkan secara tak langsung ia menganggap Putra adalah Rangga.

Inilah awal ketika Putra menganggap Laras sebagai kekasihnya bukan lagi sebagai ibunya. Di ulang tahunnya ke tujuh belas, Laras memberikan sesuatu yang tak pernah diduga oleh Putra sebelumnya.

Malam itu Laras menghampiri Putra dan tidur satu selimut dengannya.

“Katakan kamu patuh sama ibu bukan?” tanya Laras.

“Iya, bu, tentu saja. Kenapa?” tanya Putra.

“Ibu sedang butuh dan ibu ingin kamu yang melakukannya,” jawab Laras.

Mungkin karena mereka sama-sama punya kekuatan dari seorang Destroyer, mungkin juga karena Putra sudah menganggap apapun yang keluar dari mulut Laras adalah dogma, maka ia mengikuti saja apa yang diinginkan oleh ibunya. Berawal dari cumbuan, akhirnya Putra Nagarawan pun bercinta dengan ibunya sendiri. Inilah untuk pertama kalinya Putra Nagarawan menggagahi wanita yang melahirkannya tujuh belas tahun yang lalu. Awalnya ia melakukannya karena terpaksa, tapi akhirnya ia pun bisa mencintai ibunya sendiri.

Permainan itu dimulai dari ciuman di bibir. Tentu saja Putra sangat kaku. Ia tak pernah mencium atau dicium oleh wanita sebelumnya tapi Laras menuntunnya dengan sabar. Ia mengecup bibir anaknya dan Putra pun membalasnya. Kecupan-kecupan lembut itu pun makin memanas ketika Laras sudah melepaskan baju tidurnya yang tipis. Putra juga kemudian melepaskan bajunya. Ini adalah pengalaman pertama.

Sebagaimana pengantin baru, Putra tak pernah tahu apa yang harus dilakukannya. Sang ibu dengan telaten menuntun Putra untuk meremas payudaranya. Dan juga menuntun Putra untuk menciumi lehernya dan menetek di susunya. Birahi Putra mulai terpancing ketika Laras merasakan kejantanan anaknya telah mengacung. Segera ia kulum kemaluan Putra yang sudah tegak menantang seperti tugu monas.

Putra baru kali ini merasakan kenikmatan yang luar biasa. Laras memainkan lidahnya di sekitar pinggiran kepala pion dari Putra, bibir dan lidahnya bermain dengan lembut memberikan rangsangan kepada putra satu-satunya itu. Ia tak merasa jijik atau malu lagi dengan perbuatannya. Baginya ini adalah sebuah cinta yang harus diberikan oleh ibu kepada anaknya. Anggukan kepala Laras sampai memelintir-melintir batang kejantanan anaknya dengan mulutnya itu membuat Putra tak kuasa lagi untuk bisa melepaskan spermanya untuk pertama kali. Laras menghisap seluruh cairan kental milik anaknya ini, ia bahkan menelan habis.

Kemaluannya yang sudah basah mulai lapar. Dia membiarkan Putra berbaring dengan mata terpejam menikmati orgasme yang baru saja terjadi. Tangannya masih memegangi batang yang baru menyusut 20% itu. Laras kemudian memasukkan batang itu ke dalam liang senggamanya. Putra tersentak ketika kemaluannya seperti diurut oleh sesuatu yang lembab, basah dan hangat. Ia melihat kemaluannya sudah bersarang di dalam liang senggama ibunya sendiri tempat ia keluar 17 tahun yang lalu.

“Ohhh…ibu..aahhhkkk!” Putra melenguh dan ia langsung bangkit memeluk ibunya. Sementara itu Laras seperti posisi jongkok sambil memeluk anaknya, kemudian ia bergerak naik turun. Buah dadanya tak luput dari incaran Putra.

Keduanya benar-benar dimabuk birahi. Laras sudah tak ingat lagi siapa Putra, ia hanya ingin bisa dipuaskan. Itu saja. Bahkan ketika mereka berganti posisi dengan gaya misionari, Putra pun tak menganggap Laras sebagai ibunya tapi sebagai kekasihnya yang siap untuk dientot. Gesekan-gesekan alat kelamin mereka menimbulkan suasana erotis dan kenikmatan yang tak bisa diungkapkan oleh keduanya selain digambarkan dengan desahan dan rancauan.

Bahkan saat orgasme yang kesekian kalinya, Putra meneriakkan nama ibunya, bukan dengan sebutan terhormat ibu melainkan “Ohh Laras!”

Mereka bercinta sampai pagi, sampai seluruh tenaga mereka habis, sampai seluruh tulang-tulang mereka copot semua. Bahkan Putra sampai merangkak untuk pergi ke kamar mandi beserta ibunya. Di kamar mandi pun mereka sepertinya tak ingin berhenti untuk terus bercinta dan bercinta. Mereka seperti pengantin baru yang diburu nafsu, hubungan mereka pun makin lama makin dekat. Bahkan makin erat.

Laras bukan saja menjadi ibu saja, tapi juga sebagai mentornya, juga kekasihnya. Keluarga Nagarawan tak ada yang curiga dengan kedekatan ibu dan anak itu. Mereka menganggapnya wajar. Bahkan ketika Laras merasa dirinya kembali muda, seolah-olah ia menemukan lagi sosok Rangga dalam diri Putra. Hanya saja kebahagiaan mereka singkat.

Laras pergi. Tanpa diduga, ia terkena leukimia. Penyakit ini seharusnya bisa saja dienyahkan oleh Putra, tapi ternyata Laras menyimpannya rapat-rapat. Apa alasannya? Menjelang saat-saat terakhirnya Laras berpesan kepada Putra.

“Putra, sayangku!? Dunia ini luas, hidup ini panjang. Ibu tak ingin melihatmu terus seperti ini. Ada kalanya ibu harus pergi, dan ibu sengaja tak menceritakan penyakit ini kepada siapapun, karena ibu ingin hidup sebagai manusia biasa. Ibu tahu kamu bisa menghilangkan penyakit ini, tapi ibu tak ingin melakukannya. Ibu ingin bisa mati dengan wajar sebagai manusia, bukan sebagai Destroyer. Berjanjilah kepada ibumu, balaskan dendam kita, kuasai dunia, kamu lebih baik dari kakekmu, kamu harus lebih baik! Carilah keturunan Van Bosch! Kamu harus belajar dari mereka cara menggunakan kekuatanmu!”

Tak ada tangisan, tak ada ungkapan rasa bersedih ketika Putra harus menguburkan ibu kandungnya sendiri. Dan setelah kematian ibunya, dia pergi, mengembara mencari seseorang yang bernama Van Bosch. Untungnya hal itu sangat mudah.

Setelah terjadi huru-hara di Senayan dan kematian Thomas sang Destroyer di tangan Ray sang Creator, Putra menemui Ray secara khusus. Namun Ray menolaknya. Dia adalah seorang Creator, akan sangat susah untuk mengajari seorang Destroyer seperti Putra, akhirnya Putra bertemu dengan sahabat masa kecilnya Park Sun Il atau yang biasa dikenal dengan sebutan Suni.

Mereka berdua pun mencari seorang Mist, Yuki alias White Wolf hingga akhirnya mereka bertemu dengan Lucifer dan Astarot. Mereka berempat kemudian jadi mastermind dari seluruh kejahatan besar di dunia. Genesis dan juga sesuatu yang tidak akan pernah diduga sebelumnya, menguasai dunia.

Author: 

Related Posts